Minggu, 30 November 2008

Pulang ke Rumah


Rumah Masa Depan
Bukan di Kuburan

Oleh:
RHR Dodi Sarjana


Jika ingin bersendiri tanpa bersepi
Jika ingin hening di tengah bising yang mati
Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali
Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap
jawablah:
kepadamukah kumesti pergi?


SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas.
Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana?
Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu.
Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidup yang dijalin para orangtua menjadi dasar keceriaan atau keburaman kehidupan seseorang di masa depannya.
Dari rumah lah, masing-masing individu mulai mengguratkan tapak kehidupannya. Dari rumah lah bangunan cita-cita hidup mulai ditata. Dari rumah lah, rumah masa depan mulai dirancang tata desainnya.

Kemanapun aku pergi bayang-bayangMu mengejar
Bersembunyi dimanapun selalu Engkau temukan
aku merasa letih dan ingin sendiri
Kutanya pada siapa tak ada yg menjawab,
sebab semua peristiwa ada di rongga dada
Pergulatan yang panjang dalam kesunyian
Aku mencari jawaban di laut
Kuseret langkah menyusuri pantai
Aku merasa mendengar suara
Menutupi jalan, menghentikan petualangan
Kemanapun aku pergi selalu kubawa-bawa
perasaan yang bersalah datang menghantuiku
Masih mungkinkah pintumu kubuka
dengan kunci yang pernah kupatahkan
Lihatlah…aku terkapar dan luka
Dengarkanlah jeritan dari dalam jiwa
Aku ingin pulang
Aku harus pulang


Lewat lagunya, penyanyi Yogyakarta Ebiet G Ade, mendesahkan hatinya yang galau. Dia ingin dan harus pulang. Ke manakah harus pulang?
Dengan rasa bersalah, karena (barangkali) gagal dalam menentukan langkah, sang tokoh dalam lagu Ebiet sangsi bisa pulang dan masuk rumahnya.
Kesalahan yang dilakukan telah membuat kunci rumah (masa depannya) patah. Dosa yang dia rasakan membuatnya tak pantas masuk dalam dekapan Bapanya.
Pulang ke rumah, berarti meninggalkan jasad wadag di dunia. Jasad yang dipenuhi belatung dosa, sudah tentu tak layak dibawa pulang ke rumah. Dia harus ditinggal dan menjadi residu bagi dunia.
Namun masyaallah........ wadag kotor seperti yang saya punya ini ternyata juga tak layak diselimuti hangatnya tanah liat dunia.
Lebih baik dia dibakar menjadi abu ketika suatu saat di dalamnya sudah tidak ada kehidupan lagi. Dan biarkan angin membawanya bertebaran ke semua penjuru.
Dengan begitu anak-cucu keturunan tak perlu repot membersihkan makam. Cukuplah dikenang lewat doa saja. ***

(foto ilustrasi diambil dari situs di internet)

Selasa, 18 November 2008

Cabul Temannya Porno




Mencabuli Dunia Pendidikan
Oleh: RHR Dodi Sarjana



Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Guru kencing berlari, murid kencing sambil menari.


COBALAH tengok Kamus Umum Bahasa Indonesia, susunan W.J.S. Poerwadarminta. Buka pada bagian huruf C, lalu cari kata-kata Cabul. Menurut kamus tersebut, Cabul artinya keji dan kotor (spt melanggar kesopanan); perbuatan yang buruk (melanggar kesusilaan); berbuat --, berbuat tidak senonoh (melanggar kesusilaan); gambar (bacaan) --, gambar (bacaan) yg melanggar kesusilaan; perempuan --, perempuan lacur:
Selesai!? Sekarang giliran buka Kamus Inggris Indonesia bikinan John M. Echols dan Hassan Shadily. Pada huruf P, carilah kata-kata Pornography kb. 1. kecabulan. 2 porno, gambar/bacaan cabul.
Dua kata tersebut, akhir-akhir ini begitu sering dipergunakan dalam kosa-kata di media. Tentu yang pertama menyangkut disahkannya RUU Antipornografi dan Pornoaksi. Dan yang kedua, ini sangat memprihatinkan kita, seringnya kedua kata tersebut muncul dalam pembicaraan, karena akhir-akhir ini ternyata lagi marak aksi porno dan pencabulan.
Masyaallah! Aksi porno dan pencabulan yang tengah santer jadi pembicaraan orang beberapa hari terakhir ini, ternyata menyangkut sosok guru yang seharusnya digugu dan ditiru (dipatuhi dan dicontoh).
Si guru Erwin Ronaldo, di Tapanuli Tengah Sumatera Utara (Sumut), melakukan dosanya di depan murid-muridnya. Entah setan apa yang sedang merasuki otak Erwin, dengan teganya memaksa dua siswinya melakukan oral seks, di depan kelas.
Aksi guru sebuah sekolah di Riau, seolah melengkapi aksi buruk rekannya dari Sumut dalam mengikis nama baik guru di mata masyarakat kita. Bersama rekan-rekan "sepermainannya", dia melakukan aksi preman asmara terhadap pasangan muda-mudi yang tengah memadu kasih.
Mereka mengintip pasangan yang sedang berpacaran, lalu mengintimidasinya, menelanjangi mereka dan akhirnya memeras meminta uang. Ancamannya, jika mereka tidak memberikan uang, maka foto bugil pasangan tersebut akan disebarluaskan.
Duh...dunia nampaknya memang sedang dilanda sakit...!?
Erwin yang seharusnya memberikan teladan baik kepada siswanya, justru memberikan contoh bejat. Lalu, apa jadinya dengan peribahasa "guru kencing berdiri, murid kencing berlari"? Akankah semakin terealisasi? Kita bisa membayangkan betapa mengerikann akibat buruknya nanti.
Bayangan mengerikan akan kondisi bangsa ini pun makin mengental. Upaya pembatasan meluasnya aksi porno dengan menelorkan undang-undang antiporno sertinya hanya akan menembus ruang kosong belaka.
Pencabulan dan porno yang kelahirannya seumur dengan keberadaan manusia di bumi ini, bak penyakit menular yang tak gampang dibasmi. Ibarat menangani penyakit, keberadaan undang- undang anticabul dan porno, hanyalah mengobati saja. Bukan melakukan pencegahan sejak dini.
Memerangi pencabulan dan aksi porno akan sukses jika bertamengkan isu moral dan bersenjatakan budi pekerti. Dengan menanamkan budi pekerti sejak dini, baik lewat sekolah dasar maupun keluarga, penularan pencabulan dan porno aksi akan bisa dikikis.
Dua perilaku oknum guru di atas, sudah cukup membuktikan dan memberi gambaran betapa bangsa ini tengah menghadapi krisis kehidupan. Jika relung pendidikan sudah tercemari virus seperti itu, bagaimana dengan output yang dihasilkannya?
Sungguh kita membutuhkan guru yang bisa membimbing kita memahami secara utuh konteks kehidupan, baik lewat keberagaman kultur, etnis, dan agama. Kita merindukan sosok yang bisa merajut kembali nilai-nilai kesopanan dan budi pekerti yang berperikemanusiaan.
Ayo guru bangsa yang berada di dunia pendidikan, guru bangsa yang ada di dunia politik, di pemerintahan, dan di mana saja, kamu bisa memberi contoh yang lebih baik. Yes...you can!!

Pangeling-eling:
Cabul = Cacat Budi Luhur
Porno = Pikiran Orang Norak
(foto ilustrasi diambil dari situs di internet)