Selasa, 23 September 2008

Iiiihh Porno ...


Jangan Pernah Menyusui dalam Angkot
Oleh:
RHR Dodi Sarjana


KETIKA kita naik bus umum (zaman dulu) biasanya ada peringatan "Dilarang Mengeluarkan Anggota Badan". Maksudnya, saat bus berjalan jangan sampai kepala atau tangan penumpang terjulur keluar, bisa berabe. Kesenggol pohon di tepi jalan bisa mak...nyus. Untuk saat ini, peringatan itu bisa bermakna lain. Ibu-ibu yang membawa bayi dilarang menyusui di kendaraan umum. Anggota badannya yang dikeluarkan bisa disemprit UU Pornografi....he he he.


DPR RI akhirnya menunda pengesahan RUU Pornografi pada 23 September 2008. Masih banyak hal yang perlu dibenahi dari RUU tersebut sebelum akhirnya harus diketok palu untuk dipakai sebagai pedoman hidup bermoral di tanah air.
Silang sengkarut soal pornografi dan pornoaksi ini telah menghangat sejak masih dalam tataran wacana, perumusan RUU (Rancangan Undang-undang) hingga aksi sosialisasi. Bahkan sampai saat ini, persoalan tersebut sebenarnya juga belum jelas alurnya. Jangankan soal kesepahaman materi undang-undangnya, soal batasan-batasan pengertian pornografi dan pornoaksi saja juga belum ada kata sepakat.
Masih terjadi tarik ulur soal terminologi ranah pornografi dan pornoaksi. Belum ada kesamaan visi antar satu manusia dengan manusia lainnya, antara budaya satu dengan budaya lainya dan antar satu daerah dengan daerah lainnya.
Belum adanya kesamaan pandangan, membuat pengertian pornoaksi dan pornografi yang diundang-undangkan menjadi sangat subjektif. Makna porno yang muncul menjadi bukan pengertian secara universal, namun pengertian orang per orang dan kelompok. Ujung-ujungnya, baik makna konotatif maupun denotatif porno menjadi bias.
Celakanya lagi, dalam beberapa kasus, pro kontra tentang persoalan ini mulai membelok kepada hal-hal yang agak sensitif. Ada pihak yang entah karena sengaja atau karena ketidakahuanya, mencoba-coba membalut persoalan dalam nuansa keagamaan. Padahal maksud dari RUU Antipornografi dan Pornoaksi adalah bukan untuk mengatur agama, melainkan budaya dan perilaku.
Berbicara tentang segala hal yang berkaitan dengan porno, tidaklah akan ada habisnya dan barangkali sulit untuk memberantasnya secara tuntas. Bukan bermaksud pesimistis, namun aksi porno yang ada sejak peradaban manusia lahir, seolah sudah menjadi perilaku yang mengakar.
Itulah sebabnya, tidak salah jika ada satu pendapat yang menyatakan bahwa yang kita butuhkan sekarang sebenarnya adalah penguatan moral. Bukannya aturan hukum baru yang belum tentu akan terpakai.
Sebagai negara yang multikultural, tentu nantinya akan dibutuhkan banyak pasal yang mengatur penerapan atau aplikasi dari RUU Antipornografi dan Pornoaksi ini. Asumsinya, apa yang diangap porno di suatu daerah, belum tentu juga berarti porno di daerah lain. Apalagi jika hal itu menyangkut budaya masing-masing daerah, tentunya akan membuat banyak catatan kaki dalam RUU tersebut.
Di Bali, wanita "mempertontonkan" payudaranya saat pergi ke sawah, barangkali merupakan hal yang lumrah. Demikian pula di kawasan pedesaan, kaum wanitanya mandi telanjang dengan memamerkan putingnya, juga merupakan hal yang wajar-wajar saja. Anehnya, ketika hal itu menjadi buku terbuka, jarang kita dengar kasus perkosaan terjadi di sana.
Sementara kalau kita mau jujur, melihat draft RUU yang sudah mulai digulirkan tahun 1999, namun tidak pernah selesai-selesai ini, menunjukkan ada masalah di sana.
Masalahnya apa saja? Sejak awal, persoalan ini dikawatirkan bisa memicu perpecahan bangsa. Belum adanya kesamaan pengertian pornografi -- jika undang-undang ini dipaksakan -- akan bisa mencederai psikologis masyarakat yang plural.
Masalah yang lain lagi, substansi dari undang-undang ini terlalu banyak merugikan kaum wanita. Menurut Jurnal Perempuan, RUU Antipornografi dan Pornoaksi yang sedang menanti giliran untuk disahkan tidak mengindahkan aspek-aspek keadilan bagi perempuan.
RUU Pornografi dan Pornoaksi dipandang justru melegalkan tindakan pelecehan seksual terhadap perempuan. Perempuan dalam RUU menjadi obyek yang harus diatur, karena dengan keberadaannya lah maka kehidupan ini dianggap diwarnai dengan tindakan pornografi dan pornoaksi.
Dengan demikian, untuk melihat soal pornografi maupun pornoaksi diperlukan sikap yang arif serta sikap kenegarawanan. Gunakan akal dan hati untuk melakukan pencegahan atau menghentikan mengkonsumsi pornografi. Karena esensi manusia yang sebenarnya adalah memang pada akal dan budinya, bukan kemolekan tubuhnya. ***


Ctt.

Mohon dicermati berita yang dilansir detikcom ini

Ancaman bagi Pasutri Simpan Blue Film

Jakarta - Salah satu yang dikhawatirkan oleh kubu penolak RUU Pornografi adalah: apakah pasutri yang menyimpan blue film akan terkena ranjau RUU Pornografi? Hal ini rupanya masih diperdebatkan anggota Panitia Kerja (Panja) RUU tersebut.
"Memang intervensi negara terlalu jauh karena terlalu masuk ke pribadi. Tapi ini masih dalam perdebatan," ujar anggota Panja RUU Pornografi Badriah Fayumi kepada detikcom, Selasa (23/9/2008).
Selain menyimpan blue film, menurut Badriah, salah satu contoh yang dilarang dalam RUU Pornografi yakni membuat pertunjukan yang mengesankan pornografi seperti iklan berbau seks, menampilkan persenggamaan, alat kelamin, persetubuhan yang melibatkan anak, dan telanjang bulat yang cabul.
"Kalau orang berangkulan dan berciuman itu biasa," katanya.
Menurut politisi PKB ini, RUU Pornografi lebih menekankan produksi, distribusi, konsumsi dan jasa pornografi. RUU tidak dimaksudkan sama sekali untuk memberangus kreativitas budaya lokal di Indonesia.
"Penerbitan baik yang ada SIUP-nya atau tidak serta penayangan baik melalui televisi, televisi kabel atau radio, yang berbau pornografi, itu yang dilarang. Urusan budaya sama sekali tidak ada eksploitasi," terang Badriah.
Rencananya, setelah tertunda disahkan pada 23 September, RUU akan disahkan pada Oktober 2008. "Itu nanti dibahas lagi. Yang terpenting bukan waktunya, tapi materinya," pungkasnya.
(nik/nrl)

Jumat, 12 September 2008

Politik Beras

Tong Kosong Nyaring Bunyinya
Padi Kosong Ramai Isunya


Oleh:
RHR Dodi Sarjana



PADI merunduk tandanya berisi. Namun jika sudah merunduk tak jua berisi, itu namanya super kopong. Ohh...nasibmu padi Super Toy HL2.


PENEMUAN padi Super Toy HL2, menjadi riak gelombang dalam perjalanan kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama menjadi presiden ke-6 Republik Indonesia.
Seakan melengkapi kesialan SBY dengan Blue Energy-nya, Super Toy HL2 benar-benar super toy (baca: super mainan) bagi lawan politik SBY untuk memain-mainkan branding (figur) SBY menjelang Pemilu 2009.
Lawan politik presiden yang lemah lembut ini, sontak berebutan menorehkan tinta hitam tebal dalam agenda kerja harian mereka: SBY MUDAH DITIPU DAN GAGAL MENGENTAS KESENGSARAAN RAKYAT.
Kali pertama, "aksi' peduli kebutuhan rakyat SBY terantuk batu besar ketika dia dengan semangat merespon penemuan Blue Energy, bahan bakar berbasis air. Penemuan itu tak terbukti kebenarannya, bahkan berbau penipuan.
Kali kedua, presiden yang juga pencipta lagu ini direpotkan oleh temuan padi Super Toy, yang konon kabarnya produksinya mampu digenjot secara besar-besaran. Namun sayangnya, keampuhan padi tersebut tidak terbukti. Bahkan, padi Super Toy yang sempat dipanen Presiden 17 April 2008, memicu kemarahan petani karena pada panen kedua isinya kopong.
Jangan main-main dengan padi atau beras. Benda atau sebut saja barang yang satu ini cukup angker. Urusannya sangat erat terkait dengan urusan perut. Ketika perut lapar, kosong, dan tak ada lagi yang bisa dimakan, bisa menyulut aksi anarkis seseorang atau sekolompok orang.
Beruntung jika gara-gara perut kosong hanya berdemo saja. Bagaimana jika terjadi aksi brutal yang lebih mengerikan?
Dalam guliran roda sejarah kehidupan, persoalan pangan, tercatat seringkali menyebabkan tampuk pimpinan jebol. Longsor digerus rakyat yang gelap mata, gelap hati, dan gelap masa depan. Dalam sejarah nusantara, pada abad ke-16-18, kerajaan Mataram pernah mengalami pasang surut gara-gara kelangkaan pangan. Pada saat itu, penguasa sebenarnya sudah sadar betul untuk memanfaatkan beras sebagai komoditas politik.
Para raja yang berkuasa menyadari beras merupakan simbol stabilitas ekonomi dan politik. Jika terjadi masalah dengan produksi beras, pasti ada pula masalah dengan kekuasaan. Sebaliknya, kerajaan dan raja akan diagung-agungkan bila masalah beras bisa dikendalikan. Sayang, Mataram akhirnya gagal mengelola urusan beras. Tamatlah riwayatnya.
Di awal kelahiran Indonesia, politik beras juga berperan kuat. Presiden Soekarno yang banyak memotret penderitaan masyarakat, berani menyatakan menolak impor beras. Indonesia yang gemah ripah loh jinawi, subur tentrem kertorahajo (melimpah kekayaan alamnya dan subur serta aman tentram), bisa mencukupi pangan sendiri.
Momen yang sangat penting dalam kisah Presiden pertama RI ini, saat pertemuannya dengan petani bernama Kang Marhaen di Bandung selatan. Pertemuan itu makin menunjukkan keberpihakan Soekarno pada rakyat kecil. Nama Marhaen sendiri akhirnya dipakai oleh Soekarno untuk mencirikan petani Indonesia yang miskin tanpa tanah. Sayang, upaya pemerintah untuk mencukupi kebutuhan sendiri, kala itu, masih banyak retorikanya. Aplikasinya masih kurang.
Sementara sejarah juga mencatat, Presiden kedua Soeharto akhirnya jatuh, saat harga beras melambung di tahun 1998. Lengkaplah sudah. Keangkeran beras menjadi semakin terkukuhkan. Keberadaannya mampu menentukan berlanjut tidaknya laju kepemimpinan seseorang.
***
SAMPAI saat ini, beras masih menjadi sarana ampuh untuk menarik simpati rakyat. Jauh sebelum SBY memanen padi Super Toy, oposisi pemerintah, PDI Perjuangan sudah lebih dulu mengembangkan jenis padi Mari Sejaheterakan Petani (MSP).
Saat Megawati (yang mantan Presiden dan putri Presiden Soekarno) mengkampanyekan PDIP, dibarengi dengan acara menanen beras MSP. Banyak warga yang hadir kemudian mengubah arti dari beras MSP ini dengan kepanjangan dari Megawati Soekarnoputri.
Jenis padi yang pertama kali ditemukan oleh warga Bogor bernama Surono Sunu ini, diyakini memiliki kelebihan dibanding varitas lain yang saat ini banyak ditanam petani. Padi jenis MSP, katanya, bulirnya lebih banyak dan nasinya lebih gurih. Hingga kini, belum ada petani yang mengeluhkan jenis padi ini.
Sebenarnya, lampu merah pengadaan beras, sudah lama menimpa tanah air kita. Gara-gara stok nasional semakin menipis, harga beras hampir di seluruh wilayah Indonesia seringkali mengalamai kenaikan yang cukup drastis.
Mencoba menelisik kelangkaan dan kenaikan harga beras, merupakan akumulasi kenaikan harga beras selama beberapa tahun terakhir. Dan ini, adalah buah simalakama politik beras. Impor beras diprotes, tidak impor harga naik, rakyat miskin pun bertambah.
Dalam beberapa kasus, impor beras sebenarnya adalah hal yang amat biasa. Jika stok yang dikuasai pemerintah menipis, harus impor untuk operasi pasar. Jika tidak, rakyat akan kelaparan. Tetapi, setiap kali pemerintah berniat mengimpor beras, selalu ada protes, bahkan DPR sempat hendak menggunakan hak angket dan hak interpelasi. Dalam hal ini, beras lalu bukan hanya jadi komoditas ekonomi, melainkan juga komoditas politik.
Itulah sebabnya, tidak terlalu aneh jika selama ini tak pernah ada pihak yang mempermasalahkan kemungkinan terjadinya korupsi dalam pengadaan beras. Seringkali aparat keamanan dan bea cukai telah menemukan bukti-bukti penyimpangan. Beberapa kapal tertangkap tangan membawa beras dari Thailand dan Vietnam, tanpa dokumen lengkap. Namun karena beras merupakan komoditas politik, maka penolakan impor selalu dikaitkan dengan nasib petani. Bukan dugaan adanya korupsi.
Selama ini pola pikir kita soal pangan memang masih subsisten. Artinya, menanam padi secara tradisional, untuk kepentingan keluarga sendiri. Untung atau rugi tidak masalah. Sistem pertanian modern, berupa lembaga petani, lembaga penyimpan data, lembaga pemberi kredit, dan lembaga asuransi, tidak pernah terbangun di Indonesia.
Menurut pengamat sosial-politik sekaligus penyair, F Rahardi, pola pikir itu mendasari pemikiran pemerintah dan para polisitisi kita. Mereka berpolitik dan memerintah negeri secara tradisional, untuk kepentingan "keluarga sendiri". Ketika Megawati menjadi presiden, para politisi Golkar paling sering berkomentar tentang kebijakan beras nasional. Belakangan, politisi PDI-P lebih gencar menentang impor beras. Itulah politik subsisten.
Ah......sudahlah. Mari kita putihkan saja persolan itu. Lebih baik mari kita pikirkan soal beras, soal pangan ini secara bersama-sama. Kalau perut tetap kosong keroncongan, kita tidak akan bisa memikirkan hal yang lebih besar lagi. Dunia makin mengglobal, modern, dan maju, kita jangan sampai tergilas olehnya.
Kenyangkan perut, pikirkan kehidupan lebih baik dan kembangkan teknologi.***

Catatan
* Konon kabarnya, Super Toy HL2 adalah singkatan penemu padi, yakni Supriyadi Toyong. Lha HL2-nya apa? Itu nama Heru Lelono, staf ahli Presiden SBY yang mentenarkan Blue Energy dan Super Toy HL2

Kamis, 04 September 2008

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang




Indahnya Coblosan di Bulan Puasa
Oleh:
RHR Dodi Sarjana


Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat.

MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat.
Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri.
Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru.
Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga membawa berkah yang lain. Di sepanjang bulan suci ini, di beberapa daerah bakal dan sedang menggelar acara demokrasi paling akbar. Warga di beberapa daerah sedang dan bakal memilih pemimpin baru mereka.
Dengan pemimpin baru nanti, siapa pun mereka yang terpilih (entah tokoh lama atau benar-benar baru), hidup baru juga akan dijalani warga yang sedang meretas proses demokrasi. Dengan pemimpin baru, tentu harapan kehidupan baru juga membersit di benak semua orang.
Di Sumatera Selatan, pertarungan untuk merebut kursi bermahkota tengah diperebutkan antara SOHE (Sjahrial Oesman-Helmy Yahya) melawan ALDY (Alex Noerdin-Eddy Yusuf). Ketenaran Helmy Yahya yang sering nongol di layar televisi dan branding-nya sebagai tokoh peduli orang susah (dalam acaranya bagi-bagi rezeki di tv) akan ditunggu tuahnya.
Di Lampung, saat ini juga tengah digelar pertarungan calon Gubernur. Ada tujuh pasangan yang sedang berpeluh dan berdaki untuk memperebutkan tempat terhormat di sana. Tidak ketinggalan pula di Bumi Lancang Kuning, Riau, juga tengah terjadi pergulatan calon Gubernur oleh tiga pasang "kekasih".
Untuk ranah Melayu, Riau, yang akan menggelar Pilkada 22 September 2008 nanti, kita semua berharap, pemimpin Riau di masa mendatang mampu memberikan kehidupan baru yang lebih nyaman dan aman. Jika ada kekurangan selama ini yang dirasakan masyarakat, diharapan nantinya semuanya bisa tertutupi dengan indah.
Saat-saat puasa tentu mengandung banyak jejak dan makna, baik dari sudut pandang spiritual maupun sosiokultural. Kita semua berharap dan berdoa, semoga pemilihan pemimpin di bulan suci ini, kelak juga mampu menciptakan suasana kehidupan yang penuh dengan rasa solidaritas sosial.
Ramadhan sebagai bulan suci mendaraskan ajaran kepada kita semua untuk menahan diri dari meluapnya rasa kebencian, kedengkian, pertikaian antarsesama manusia. Visi perdamaian dalam Ramadhan menuntut kita untuk menghindari sikap permusuhan di antara sesama manusia. Karena itulah, tepat jika ketiga calon pasangan pemimpin Riau, Kamis (4/9) sore kemarin, berikrar untuk melakukan kampanye damai.
Pasangan CS (Chaidir-Suryadi), RZ-MM (Rusli Zainal-Mambang Mit), dan Tampan (Thamsir Rahman- Taufan Andoso) sepakat melaksanakan kampanye sejuk, aman, damai, sopan, tertib, edukatif dan mengendalikan pendukungnya agar tidak anarkis.
Mereka juga bertekad mewujudkan pemilihan dengan asas langsung, umum, rahasia, jujur, adil, damai, dan demokratis, selain juga berjanji untuk bersikap kasatria menerima kekelahan.
Memang pesan substansial dalam ajaran Ramadhan adalah menciptakan perdamaian sejati, bukannya memperbanyak perselisihan, dan pertikaian. Perdamaian sejati harus menjadi paradigma fundamental dalam pergaulan antarsesama umat manusia meski berbeda kelompok, organisasi, suku, bangsa, dan agama.
Perdamaian merupakan cita-cita bersama umat manusia. Tidak hanya dalam masa kampanye Pilkada saja, namun cita-cita itu tetap harus digelar terus sepanjang kehidupan di tanah Riau ini. Dan cita-cita itu dapat terwujud jika umat manusia memiliki kesadaran tentang toleransi dan adanya keadilan (kesetaraan) dalam kehidupan sosial.
Di bulan suci Ramadhan ini, kita semua dituntut untuk selalu memaknai perdamaian dalam konteksnya yang paling aktual agar tidak sekadar menjadi perilaku simbolik, tetapi benar-benar substansial, yaitu untuk ibadah dan kedamaian.
Dengan melakukan kampanye damai di bulan puasa, kita diharapkan mampu melihat dan mampu menggerakkan seluruh potensi warga menuju Riau baru, dengan tatanan masyarakat madani yang etis, demokratis, egaliterian, dan sesuai kehendak Ilahi yang harmonis.
Karenanya, mari kita jadikan bulan Ramadhan kali ini sebagai momentum untuk bebenah diri, introspeksi, cooling down, kontemplasi, dan merefleksi diri, baik sebagai individu yang lemah di hadapan Tuhan maupun sebagai rakyat yang sedang bertaruh demi masa depannya ***


INDAHNYA KALAU BERDAMAI - Para calon Gubernur Riau dan wakilnya (ki-ka:CS, RZ-MM, TAMPAN), sedang berikrar damai dan siap menerima kekelahan secara ksatria. Duuh....betapa indahnya dunia jika jalinan kebangsaan dilandasi sikap legawa seperti ini. Jangan ada dendam di hatimu ya! FOTO: Dody Vladimir