Kamis, 21 Agustus 2008

Menjual Diri

thx to romo putra dion atas kiriman fotonya

SBY Beriklan, Semua Beriklan, Kita Bagaimana?
Oleh:
RHR Dodi Sarjana



YOU are what your dress. "Pakaian" pada hakikatnya membungkus watak seseorang. Dan kemasan pada ghalibnya menyiratkan kualitas produk yang dikandungnya.

PERSOALAN kemas-mengemas diri, akhir-akhir ini tidak hanya menjadi monopoli dunia bisnis saja. Kegiatan yang biasanya dilakukan para pengusaha itu, kini juga menjadi tren di kalangan pejabat, politisi, tokoh, dan orang awam yang ingin menjadi tokoh. Semua pasti mahfum, bahwa itu semua gara-gara, saat ini, mendekati masa-masa unjuk diri menjelang Pemilu 2009.
Tidak hanya yang akan mencalonkan diri jadi presiden yang "beredar" di relung-relung hati masyarakat Indonesia, yang berkehendak menjadi calon legislatif (caleg) pun juga berbondong- bondong mempercantik penampilan agar pas dan pantes di hadapan rakyat yang akan diwakilinya.
Jika sang pengusaha atau produsen mempercantik produk barunya dengan kemasan yang aduhai agar eye chatcing dan bisa bersaing dengan produk lama yang terlanjur dikenal konsumen, maka yang akan mencalonkan menjadi pemimpin dan politisi pun juga perlu berbenah diri. Lahir-batin.
Genderang masa kampanye belum terdengar ditabuh, bendera start pun belum dikibaskan, namun masa kampanye sepertinya sudah memasuki saat-saat pemanasan. Tidak hanya di media out door (baliho, spanduk, umbul-umbul dan lain sebagainya), di media cetak dan elektronik, partai peserta pemilu, para caleg dan tokoh calon presiden sering menampakan batang hidungnya.
Perang promosi jati diri sedang gencar dilakukan. Dalam tayangan televisi, tokoh-tokoh seperti Sutrisno Bachir, Prabowo Subianto, Rizal Malarangreng, Sutiyoso dan tokoh-tokoh lainnya rajin mengunjungi pemirsa.
Sapaan bertema persahabatan, persatuan dan menjaga sikap nasionalisme selalu mereka dengungkan. Tak jarang tayangan mereka seolah tampilan kisah film yang menyaingi kisah-kisah sinetron di televisi.
Bagi mereka, gencarnya promosi diri merupakan hal yang wajar dan sah-sah saja. Karena sepanjang usia republik ini, kiprah mereka belum melekat benar di pelupuk mata bangsa kita. Barangkali hanya sebagian kecil dari rakyat Indonesia yang mengenal mereka. Karenanya secara "sadar" mereka harus berani tampil bak artis film atau sinetron yang rajin mengunjungi penggemarnya.
Dalam tampilan mereka, para tokoh tersebut tampak berusaha keras untuk mencitrakan diri sebagai orang yang peduli akan nasib orang kecil. Nasib warga kebanyakan yang ada di bumi pertiwi ini.
Selama ini, sikap mereka yang peduli akan kehidupan rakyat cilik memang belum teruji benar. Barangkali, meski sudah ada hal-hal kecil yang mereka lakukan, namun perbuatan itu masih kental sebagai wacana belaka. Indikasi yang paling gampang untuk mengukur hal itu adalah, sampai saat ini, sepertinya belum pernah ada lembaga yang memberi mereka penghargaan atas perhatian mereka kepada kehidupan kaum papa.
Untuk itulah mereka memang harus banting tulang mengemas diri seperti yang mereka tampilkan saat ini di media elektronik dan cetak. Mereka yakin, ketika sosok "penuh perhatian" yang mereka citrakan melekat di mata dan hati rakyat penikmat televisi, diharapkan itu akan membenam dalam impian bawah sadar rakyat, yang pada gilirannya nanti (saat pemilu) akan muncul dan menjelma menjadi keputusan untuk memilih calon mereka. Siapa calon itu? Tentunya para tokoh yang mampu membidikan "panah cinta" ke jantung hati pemirsa televisi.
***
Fenomena tampil di media, semakin hari semakin mengental. Bahkan "virus" itu menulari Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), yang sebenarnya sudah terkenal hingga ke pelosok-pelosok negeri. Takutkah SBY tersaingi populeritasnya oleh Sutrisno, oleh Prabowo, atau oleh pendatang baru Rizal yang nota bene adik kandung juru bicara presiden, Andi Malarangreng?
Kita boleh berpendapat dan mengomentari penampilan presiden. Pengamat juga berhak untuk memberikan kajiannya. Namun alasan yang benar-benar menjadi alasan kemunculan presiden, tentulah presiden dan tim-nya sendiri yang mengetahui secara pasti.
Dugaan sementara, kehadiran sosok SBY dalam berbagai format iklan Partai Demokrat (PD) di media massa cetak dan elektronik, dimaksudkan sebagai pemanasan untuk pencalonannya kembali dalam Pilpres 2009. Betulkah?
Untuk sementara (pula) rasa penasaran kita diobati oleh seteguk jawaban Ketua PD Andi Mallarangeng yang juga juru bicara SBY. "Itu iklan PD, bukan iklan SBY. Untuk pencalonannya kembali, beliau masih menunggu saat yang tepat," ujar Andi.
Beberapa partai politik kontestan Pemilu 2009 memang juga membuat iklan serupa. Di dalam iklan tersebut juga tampil ketua umum atau para petinggi dari partai bersangkutan. Partai Demokrat beranggapan, jika parpol lain menampilkan ketua umum, maka PD juga menampilkan (SBY) sang ketua dewan pembina.
Namun ada hal menarik dalam tayangan iklan PD. Iklan tersebut memuat Pidato Kenegaraan Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1957 silam dan "jawaban" pidato dari SBY pada 16 Agustus 2008.
Pidato presiden pertama RI berisi keprihatinannya terhadap kondisi bangsa. "Akan tenggelamkah kita, saudara-saudaraku? Akankah Indonesia mulai runtuh dan ambruk?"
Sementara di bagian bawahnya, disambung pidato SBY dengan judul "Tidak" dalam ukuran besar. "Hari ini, kita bersama-sama menyaksikan negara kita, Indonesia masih tetap tegak berdiri dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Marilah kita buktikan, 10 tahun, 50 tahun dari sekarang ini, bahkan sampai kapan pun, Insya Allah, Negara kita bukan hanya tetap tegak berdiri, tetapi juga akan semakin maju dan sejahtera," demikian pidato SBY.
Pidato SBY dimaksudkan untuk menjawab kekhawatiran akan terjadinya perpecahan pada bangsa Indonesia. Indonesia saat ini, dinilai sudah jauh lebih baik dibandingkan masa sebelumnya. Menurut sang pembuat iklan, tidak ada presiden Indonesia yang benar-benar mampu menyelesaikan persoalan bangsa selain SBY. Contohnya, saat ini konflik Aceh, Poso, Papua, sudah reda semua.
Namun tentunya bukan hanya soal redanya konflik saja yang menjadi harapan kita bersama. Bagaimana memajukan dan mensejahterakan kehidupan rakyat Indonesia secara keseluruhann lah yang menjadi impian kita bersama.
Tapi...nggomong-omong, Anda juga mulai tertarik membangun citra diri kah? Buruan deh, mumpung musim tabur mimpi masih berlangsung. ***


----------------------------------------

* Catatan tambahan

Iklan dibalas dengan Iklan: Mungkinkah Sebaran foto bareng SBY dengan ratu suap Artalyta Suryani yang kini tersebar di masyarakat luar merupakan tanggapan atau promosi tandingan diri presiden?


Sumber: Tribun Pekanbaru, Edisi Jumat (22/8/08)
Foto Bareng SBY-Artalyta Tersebar Luas
* Jaksa Urip Dituntut 15 Tahun

JAKARTA, TRIBUN - Permainan baru di gelanggang politik tampaknya tengah bergulir lagi.
Setelah beredar foto Kapolri Jendral Polisi Sutanto, kini Artalyta 'tertangkap basah' dekat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Artalyta foto bareng bersama orang nomor satu di republik ini pada saat berada di acara resepsi pernikahan keluarga besar Artalyta. Foto ini diyakini sebagai Presiden SBY bersama istrinya, Ani Yudhoyono bersamaan dengan kehadiran Kapolri Jendral Polisi Sutanto saat itu.
Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Politik, Anas Urbaningrum, Kamis (21/8) menyatakan, foto itu memang sengaja dikeluarkan dengan maksud untuk menurunkan citra Presiden SBY jelang Pemilu 2009. Anas tegas menyatakan, foto itu tak lain dari strategi black campaign dari lawan- lawan politik Presiden SBY yang kemungkinan akan mencalonkan kembali sebagai capres 2009.
Dua foto Presiden SBY bersama Artalyta itu pertama kali ada di beberapa milis. Foto yang pertama memperlihatkan Presiden SBY sedang bersalaman dengan Artalyta. Sementara foto yang kedua, Presiden SBY terlihat sedang berpose dengan pengantin.
"Boleh jadi, itu adalah kampanye hitam kepada Pak SBY. Maklum, sekarang ini kan jelang Pemilu 2009, jadi pasti ada pihak-pihak yang ingin memanfaatkan untuk mencoba menjatuhkan popularitas beliau," kata Anas Urbaningrum.
Juru Bicara kepresidenan Andi Mallarangeng juga mengomentari beredarnya foto Presiden SBY dengan penyuap Jaksa Urip Tri Gunawan, Artalyta Suryani. Andi dengan bahasa diplomatis menyatakan, siapapun apalagi seorang preisden, tentu kenal dengan siapa saja.
"Siapa saja orang dalam satu acara, presiden bisa saja kenal banyak orang dan hubungan-hubungan sosial yang segala macam, tapi presiden tidak bisa seperti saya, Anda dan semua orang, tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan orang yang Anda kenal atau tidak kenal atau siapapun," kilah Andi Mallarangeng saat ditemui di Wisma Negara (........selengkapnya juga bisa Anda baca di: www.tribunpekanbaru.com)

Selasa, 19 Agustus 2008

Apalah Arti Sebuah Nama

SBY (baca:Esbeyes) atau Es Mencair 

Oleh:
RHR Dodi Sarjana


SUPERMAN, manusia atau laki-laki dengan kekuatan super hebat. Dalam keseharian kita kata itu seringkali diplesetkan menjadi Suparman. Padahal dalam khasanah Jawa, Su artinya baik, jadi bisa saja maksudnya jadilah Parman yang baik. Lalu Parman sendiri artinya apa ya? Itulah rahasia di balik nama seseorang.


MENGUTIP sepenggal dialog Romeo and Juliet karya sastrawan besar William Shakespeare, "apalah arti sebuah nama," kebanyakan orang, (lagi-lagi) memplesetkan (sengaja) dan ada juga yang terpeleset (tak sengaja), pendapat pujangga dunia itu.
Dalam suasana setengah bercanda, jika ada sesuatu yang dirasa tidak pas, orang kerap melempar pertanyaan, ah apalah arti sebuah nama? Nama tidak penting.
Jamak memang, ketika dalam perdebatan-perdebatan ringan maupun besar, terkadang pendapat tersebut dicuplik khalayak untuk mendramatisasi perdebatan yang muncul. Sementara yang lain mengutipnya agar dicap tidak ketinggalan wawasan, meski tidak mengetahui secara benar background atau latar belakang penggunaan kalimat itu.
Shakespeare, dalam sepenggal kutipan dalam karyanya menuliskan, What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.
Terjemahan kasarnya kurang lebih:
Apalah arti sebuah nama? Meskipun kita menyebut mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap harum.
Memahami "mozaik" konteks di atas, tentu kita masih meraba-raba akan maknanya. Namun pembicaraan di atas, latar belakangnya adalah dialog Romeo dengan Juliet yang tengah membahas kisah cinta mereka.
Keduanya dilahirkan dari dua "dunia" yang berbeda. Mereka berbeda marga atau fam, yang kebetulan pada waktu itu sedang berselisih. Dan Romeo mempertanyakan, "Apa sih arti nama Capulet (nama keluarganya) yang justru membuat perselisihan."
Pertanyaan Romeo, kandungan maknanya sebenarnya cukup mendalam. Salah satunya adalah; kalau sebuah nama, baik itu nama kelompok-organisasi-komunitas-atau yang lainnya, pada akhirnya hanya menyebabkan perselisihan dan pertentangan, tentulah "kantung-kantung" nama itu tiada berarti apa-apa. Justru ngisruh dan bikin kisruh.
Nama tidaklah membawa arti apa-apa sepanjang sang penyandang nama tersebut tidak mampu memberi makna atas namanya lewat perbuatan dan perilaku yang baik. Pendapat nama tiada punya arti, memunculkan perdebatan abadi yang seolah belum menemukan muara kesimpulan yang satu. Beberapa orang menganggap nama tidak penting, dan beberapa orang yang lain menganggap nama sangat penting dan berarti.
Mencoba untuk tidak memilih salah satu dari dua pendapat yang berseberangan, makna nama memang tergantung pada pandangan masing-masing orang. Tergantung latar belakang dan tujuan orang yang menolak atau menerimanya.
Namun yang pasti, dalam budaya timur atau Indonesia. Nama dipandang sebagai pendarasan doa terhadap orang yang menyandangnya. Ada pendapat yang menyatakan untuk mengenal siapa diri kita, kita harus tahu makna yang ada dibalik nama yang disematkan pada wadag (badan) dan diri kita.
Tentu sebagian besar orang tua punya alasan tertentu saat memberikan nama kepada anaknya. Menurut mereka, nama yang diberikan merupakan doa atau harapan orang tua bagi anak tersebut. Nama Surahmat misanya, diharapkan agar sang anak selalu mendapatkan rahmat atau berkah yang baik.
Sementara nama Suharto dimaknai agar sang anak sukses mengumpulkan harta yang baik dan halal.
Persoalan nama, juga tidak dipandang sebelah mata oleh Presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Cucu pertamanya yang lahir pas hari kemerdekaan juga dipilihkan nama, yang menurut mereka, baik dan diharapkan bisa mewarnai kehidupan sang anak hingga dewasa nanti.
Nama Ratu Majapahit dipilih keluarga presiden ini untuk menamai anggota keluarganya yang baru. Almira Tunggadewi Yudhoyono, itulah nama lengkap cucu pertama SBY. Menurut Agus Yudhoyono sang ayah, Almira artinya putri yang mulia. Tunggadewi itu tokoh wanita abad ke-14, Ratu Majapahit yang setia dan berani. Sedangkan Yudhoyono nama keluarga.
Keluarga Presiden beralasan nama harus cantik, elok, mengandung doa dan ada budaya yang melekat.
Dan tentu, barangkali, ada juga secuil harapan di hati keluarga besar Yudhoyono, semoga sang anak pada saatnya nanti bisa nunggak semi (mewarisi) takdir sang kakek, menjadi pemimpin bangsa, atau minimal pemimpin perusahaan, atau pemimpin di lingkungan atau komunitas terdekat mereka.
Keluarga inti Yudhoyono juga memilih saat (waktu) baik bagi awal kehidupan Almira di dunia. Keluarga presiden memilih tanggal bersejarah 17 Agustus bagi kelahiran Almira. Kenapa dikatakan memilih, karena Almira dilahirkan lewat operasi Cesar.
Sisi supranatural lain yang diyakini keluarga ini, kelahiran tersebut juga mengandung angka baik, delapan (8). Lahir bulan delapan, tahun nol delapan, dengan berat dua koma delapan delapan kg dan panjang empat puluh delapan koma delapan delapan Cm. Ajaib, tergantung dari sudut mana kita memandangnya.
Namun demikian, kelahiran Almira sangat disyukuri dan dipahami bakal membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi Presiden. Presiden mengaku, cucu pertamanya itu mampu membawa nuansa lain dalam kehidupannya. "Alhamdulillah saya sekeluarga mendapat anugerah dari Allah SWT, karena telah lahir cucu pertama kali tadi pagi," ujar Presiden usai memimpin upacara kebesaran HUT ke-63 RI di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (17/8).
Presiden kita keenam ini sangat berharap rasa syukur keluarga besarnya bisa menjadi pendorong semangat kerjanya. Sehingga dirinya mampu menyelesaikan masa tugas sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan dengan baik hingga akhir masa jabatannya. "Semoga apa yang kami terima ini lebih meningkatkan semangat kami sekeluarga menunaikan tugas hingga akhir masa bhakti tahun depan," sambung SBY didampingi istrinya Ny Ani Yudhoyono, Wapres JK (Jusuf Kalla) dan Ny Mufidah Kalla.
Di penghujung kepemimpinanya, beban SBY memang cukup berat. Banyak sorotan negatif ditujukan pada era kepemimpinanya. Beberapa kalangan menyatakan SBY belum berhasil memenuhi janjinya membawa Indonesia ke jenjang yang lebih baik.
Mungkinkah nama Presiden ikut berpengaruh dalam alur kepemimpinannya? Presiden pertama Soekarno seringkali disebut Bung Karno. Nama tersebut diuthak-athik sebagai bongkar, jadi masa kepemimpinannya diwarnai bongkar-bongkar untuk mempersiapkan pondasi bangunan negara dan bangsa ke arah yang lebih baik.
Presiden kedua, Soeharto, terkenal pandai menghimpun harta kekayaan. Barangkali hingga anak- cucu sampai tujuh turunan, kekayaan Su (baik) Harto (harta) tidak akan ada habisnya. Bagaimana dengan presiden-presiden sesudahnya? Kita bisa memaknainya sendiri-sendiri dengan versi kita masing-masing.
Namun terkait nama Presiden sekarang ini, rasanya ada satu hal yang kurang umum. Biasanya nama Bambang diletakkan di depan. Misal, Bambang Permadi, Bambang Susetyo, Bambang Maladi, dan lain-lain. Untuk SBY, nama Bambang diletakkan di urutan kedua, Susilo Bambang.....
Bambang sendiri bisa mengandung makna baik, Susilo (sila atau kelakuan atau tabiat baik) Yudhoyono (mungkin bisa diartikan pahlawan atau medan pertempuran). Seorang pakar kiratabahasa pernah mengatakan, singkatan nama SBY kalau dieja dalam bahasa sunda maknanya kurang bagus. Esbeyes. Artinya es mencair. Itulah makanya di saat awal-awal kepemimpinan SBY dan mungkin sampai saat ini bencana alam banjir seringkali terjadi.
Mungkinkah ada keterkaitan? Ah....lebih baik lupakan saja. Apalah arti sebuah nama.
Pasrah dan selalu berbuat baik serta berdoa tekun, tentu akan membuat berkah-Nya selalu tercurah buat kita semua. ***



--------------------------------------------------------------------------



* Catatan Tambahan:

Di bawah ini artikel yang pernah dimuat Kompas Senin, 31 Juli 2006. Semoga memberi inspirasi pada kita semua


Hati-hati Memberi Nama Anak


ORANGTUA di Malaysia tak akan bisa lagi memberi anak-anak mereka nama yang dianggap tak pantas oleh pemerintah.
Menurut The New Straits Times, Minggu (30/7), Pemerintah Malaysia tak akan mengizinkan lagi dipakainya nama-nama yang memiliki arti tak baik dalam bahasa ketiga kelompok etnik utama negeri itu.
Penduduk Malaysia yang berjumlah 26 juta jiwa terdiri dari kelompok Melayu (60 persen), China (26 persen), dan India (8 persen). Menurut harian terbitan Kuala Lumpur tersebut, juru bicara Departemen Pendaftaran Nasional Malaysia Jainisah Noor menyatakan, pihaknya punya daftar nama yang disusun berdasarkan masukan berbagai kelompok budaya dan agama.
"Kami hanya membantu menyebarluaskan informasi yang dimiliki," kata Jainisah. Zani dan Woti adalah dua nama Melayu yang masuk dalam daftar nama terlarang karena " zani" berarti laki-laki pezinah dan "woti" artinya hubungan intim. Bagi orang India, nama Karrupan, yang artinya si hitam, juga tak boleh dipakai. Masih kata Jainisah, orangtua tak boleh menamai anak dengan nama-nama warna, binatang, serangga, buah-buahan, atau sayur-sayuran.
Dulu, sebagian orang China biasa memberi anak mereka nama yang buruk agar ia selalu beruntung dan tak diganggu roh jahat. Kini nama China Kanton, seperti Ah Kow, yang artinya anjing, atau Ah Gong (jiwa yang tak waras), juga dilarang.
Nama-nama China lain yang pantang dipakai termasuk Chow Tow dan Sum Seng, yang masing-masing bermakna kepala yang bau busuk dan penjahat. Namun, lanjut Jainisah, "Orang tua yang tetap ingin memakai nama yang dilarang tetap boleh mengajukan permohonan ke departemen dan masih mungkin bisa dikabulkan." (AFP/Reuters/muk)




Kamis, 14 Agustus 2008

Catatan Kehidupan

Tayangan Ulang Kehidupan

(Thanks to Hendro "Lentho" Rumpoko yang telah mengirimkan artikel ini)



SEPERTI biasa, adik saya, rajin mengirimkan email persoalan kehidupan ke email saya. Perhatiannya begitu besar terhadap upaya olah rasa dan karsa (hati dan tindakan) agar dalam menjalani kehidupan ini penuh tuaian keseimbangan.
Email yang dia kirimkan, Kamis (14/8/08) sore, memberikan sentuhan lain ke hati saya. Mencuil sepotong artikel James Redfield dari buku THE CELESTINE VISION dia mencubit kesadaran saya lagi tentang arti perjalanan kehidupan.
Artikel itu makin menguatkan saya bahwa hidup tidak sekedar singgah untuk minum (urip ora mung mampir ngombe). Tapi hidup memang harus benar-benar dimaknai agar lebih "hidup" di kehidupan di kemudian hari. Dunia-akhirat.
Berikut kutipan artikel tersebut:




TAYANGAN Ulang Kehidupan adalah salah satu aspek paling memukau dari
pengalaman menjelang kematian. Biasanya, banyak orang yang mengaku melihat seluruh kehidupan mereka melintas di depan mata, bukan seperti film, melainkan lebih seperti gambar-gambar hologram. Mereka melihat segala sesuatunya secara mendetail dan menyaksikan kehidupan mereka dinilai oleh diri mereka sendiri, bukan oleh orang lain. Seakan kesadaran mereka berkembang dan menyatu dengan kecerdasan sejati yang lebih besar.
Berdasarkan pemahaman yang lebih tinggi ini, orang-orang yang pernah menjalani pengalaman menjelang kematian berkata bahwa selama proses tayangan ulang itu berlangsung, mereka memahami berbagai keputusan buruk yang mereka ambil dan bagaimana mereka seharusnya menangani situasi-situasi tertentu.
Tayangan ulang itu sangat menyakitkan sekaligus luar biasa menyenangkan, tergantung apa yang mereka lihat. Ketika mereka melihat insiden saat mereka menyakiti perasaan seseorang, mereka benar-benar merasakan kesakitan yang dialami orang tersebut, seakan mereka berada di dalam batin orang lain. Mereka juga bisa melihat dan merasakan kebahagiaan dan cinta yang mereka timbulkan dalam diri orang lain dengan menjadi orang tersebut.
Karena empati yang mereka rasakan begitu dalam, kebanyakan orang yang pernah menjalani pengalaman menjelang kematian kembali dan menjalani hidup dengan tekad bulat untuk tidak mengulang kesalahan yang sama serta lebih banyak membantu orang lain. Setiap kalimat yang mereka ucapkan kepada orang lain, setiap interaksi dengan teman atau anak, setiap pikiran tentang orang lain, sekarang lebih bermakna karena orang ini tahu setiap tindakannya akan diulas dan ditayangkan kembali suatu hari nanti.
Sepertinya pada konteks tertentu kita sudah lama tahu soal Tayangan Ulang Kehidupan. Pasti sudah ada yang mendengar seseorang berkata, "Seluruh hidupku melintas di depan mataku" saat hampir saja dijemput maut. Tulisan-tulisan atau kitab suci yang menggambarkan penghakiman setelah mati juga pernah menyebutkan semacam Tayangan Ulang Kehidupan.
Namun sekarang kita semakin menyadari detail-detail pengalaman tersebut. Kita dihakimi ketika kita mati, namun sepertinya kita tidak dihakimi oleh Tuhan yang penuh dendam, melainkan oleh kesadaran sejati yang berhubungan dengan diri kita sendiri.
Saat informasi ini mulai diketahui secara luas, salah satu hasilnya adalah kita menjadi lebih berhati-hati dan memikirkan segala konsekuensi tidakan kita. Kita menjadi lebih sadar kenapa kita harus menyemangati orang lain.
Mungkin penilain kita masih simpang-siur, namun sekarang kita bisa berhenti dari waktu ke waktu dan mengkaji kehidupan kita, membayangkan melihat lebih awal Tayangan Ulang Kehidupan dalam benak kita. Menurut saya, kita akan sadar inilah proses pertobatan yang sesungguhnya.......















Selasa, 12 Agustus 2008

Makna Nomor


Makna Nomor dan Aura Pemimpin
Oleh:
RHR Dodi Sarjana

Satu jumpa satu, dua jadinya. Dua yang setuju bersatu jadinya. Semua bersatu, mari membangun negeri

ANGKA. Diyakini banyak orang membawa makna. Angka satu tentu berbeda dengan angka sembilan atau angka sepuluh yang kalau ditulis sebenarnya tetap mengandung angka satu (satu dan nol/1 & 0 = 10).
Angka kecil, kata semua orang di dunia, menunjukkan urutan terbaik. Sang juara disebut nomor satu. Juara setelah nomor tiga, selalu disebut juara harapan. Begitu seterusnya, dan yang keberuntunganya "kecil" seringkali hanya disebut masuk sepuluh besar atau lima besar.
Itu baru soal urutan, belum lagi kalau "dihitung" secara njlimet ala nuansa paragnos atawa supranatural. Persoalannya pasti berbeda dan lebih berwarna lagi. Macam-macam penafsiran akan muncul terkait angka-angka tersebut.
Angka satu bisa dimaknai satu rasa, manunggal, punya pendirian. Angka dua, dari sisi positifnya juga mengandung kebaikannya sendiri. Dua ibarat hakikat kehidupan ini, ada laki dan perempuan, ada siang dan malam, ada kebaikan dan kejahatan. Jadi dua seolah sempurna.
Angka tiga juga tidak kalah bagusnya. Tiga ibarat timbangan; ada yang ditengah sebagai penyeimbang dan dua di sisi kanan kirinya. Mendapat anugerah angka tiga, bisa dimaknai akan mampu membawa keadilan. Demikian pula untuk angka-angka berikutnya; empat, lima, dan seterusnya punya kebaikan masing-masing.
Membicarakan kemungkinan-kemungkinan di balik angka tidak akan ada habisnya. Bahkan akan mendorong munculnya perdebatan seru. Namun yang pasti setiap angka tetaplah membawa keberuntungan bagi masing-masing orang.
Contohnya angka 13. Meski saat ini banyak yang menyakini angka tersebut pembawa sial, tapi bagi orang-orang tertentu, angka tersebut katanya justru membawa keberuntungan.
Persoalan angka, lagi-lagi menjadi perbincangan menarik menyusul penetapan nomor urut partai politik peserta Pemilu (Pemilihan Umum) dan pasangan calon peserta Pilgub (Pemilihan Gubernur).
Wiranto yang partai Hanura-nya mendapat nomor satu, menyatakan beruntung karena nomor satu akan mudah diingat. Sementara PKB yang mendapat nomor urut 13 tidak khawatir akan mendapat masalah. Partai ini justru menyatakan angka tersebut akan membuat mereka beruntung.
Demikian pula partai-partai lain, meski dalam hati kecil pengurusnya ada yang tidak sreg (nyaman) dengan angka urutannya, namun ekspresi mereka tetap menyatakan keoptimisannya dengan angka yang mereka peroleh.
Mau tidak mau mereka harus menerima angka yang sudah dipilihnya, dan menyakininya ada sisi-sisi keberuntungan yang dibawa angka-angka tersebut.
Soal nomor urut, Senin (21/7/08), juga menjadi penantian dan perhatian utama masyarakat Riau. Dalam rapat pleno terbukanya, KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah) Riau menetapkan nomor urut 3 pasang calon gubernur dan wakilnya. Ketiga pasangan itu bakal berebut sekitar 3,2 juta suara masyarakat Riau.
Pasangan Chaidir-Suryadi Khusaini yang diusung PDI Perjuangan dan PBB ini mendapat nomor 1. Calon Gubernur dari pasangan yang akrab disebut CS ini adalah mantan Ketua DPRD Riau dan sebenarnya sebagai kader Golkar. "Coblos Satu," kata Chaidir seolah mempadupadankan CS sebagai Coblos Satu.
Pasangan Rusli Zainal-Mambang Mit (RZ-MM) mendapat nomor urut 2. Pasangan ini diusung Partai Golkar, PPP, PBR, dan PKB. Rusli adalah incumbent dan menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Provinsi Riau. Sedangkan Mambang Mit sebagai Ketua Korpri Riau merupakan mantan Sekda Provinsi Riau. "Itu angka dari Tuhan," kata Rusli mengomentari nomor urutnya.
Rusli memang tidak memilih nomor itu, karena kebutulan dia datang terakhir, sehingga dia hanya mendapatkan "sisa" angka saja. Namun yang pasti, angka dua kata Rusli angka di tengah. Jadi bisa membuat penyimbang (keadilan) bagi warga pemilih.
Sedangkan mantan Bupati Inhu Thamsir Rachman dengan pasangannya Ketua DPW PAN Riau Taufan Andoso mendapat nomor urut 3. Pasangan ini dikenal masyarakat dengan julukan Tampan. Akankah nomor urut 3 akan membuat nasibnya se-tampan singkatan namanya? Waktu nanti yang akan membuktikannya.
Bagaimanapun nomor 1, 2, dan 3 sudah diputus siapa pemiliknya. Masing-masing pasangan pemilik nomor tersebut suka-tidak suka, mau-tidak mau, harus menyakininya sebagai nomor keberuntungan masing-masing.
Yang pasti, dalam kiprah kampanye nanti, mereka justru dituntut untuk membuat nomor urut tersebut menjadi lebih beraura. Mereka harus bisa menyakinkan masyarakat bahwa nomor yang mereka punyailah yang cocok untuk dicoblos nantinya.
Seribu satu cara mungkin sudah direncanakan tim sukses peserta pilkada guna memikat calon pemilih. Daftar "janji kampanye" mungkin telah diketik rapi. Tinggal disuarakan. Atraksi unik hingga "nakal" pasti telah dipersiapkan. Intinya, para pemilih akan dirayu. Rayuan siapa yang paling manjur? Terlalu dini menjawabnya sekarang.
Ratusan bahkan ribuan simpatisan dihadirkan tim sukses guna membangun psikologis masyarakat akan kuat dan hebatnya calon pemimpin yang diusung. Membentuk psikologi massa pemilih akan kekuatan dan kehebatan calom pemimpin di satu sisi mungkin efektif. Tapi di sisi lain, kampanye yang tak terkontrol dan buruk bisa mempengaruhi dan menciptakan persepsi buruk masyarakat terhadap calon tersebut.
Perlu kita ingat, kampanye pada dasarnya adalah bagaimana memenangkan hati masyarakat dengan memberi contoh yang baik. Karenanya tim sukses dan calon pemimpin ditantang untuk kembali membangun optimisme masyarakat bahwa calon pemimpin yang bersangkutan dapat dipercaya. Kampanye bisa dijadikan langkah awal. Bukan ajang sesumbar.
Sementara nomor urut, tetaplah nomor. Dia akan memberikan makna baik jika pembawanya juga berkelakuan baik.***

NgosekAti



Mencari Kebenaran dari Sejarah

oleh : RHR Dodi Sarjana


Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa pahlawannya


JAS MERAH. Jangan sekali-kali meningalkan sejarah. Akronim itu begitu populernya sejak dilontarkan proklamator kemerdekaan Indonesia Soekarno, hingga saat ini. Apa yang menjadi harapan Soekarno dengan Jas Merah-nya cukup jelas, bahwa sebagai manusia yang mencintai hidup kita tidak bisa meninggalkan masa lalu.
Tentu maksudnya bukanlah sekadar untuk bernostalgia. Namun dengan mengingat, mengenang, dan melakukan perjalanan kembali ke masa lalu, kita bisa belajar mengenai kehidupan dan hidup untuk menyongsong kehidupan ke depan agar lebih baik lagi.
Dengan melihat jejak langkah ke belakang, kita bisa mengetahui kesalahan yang pernah kita goreskan sekaligus bisa merunut kesuksesan, keberhasilan atau kebaikan yang telah kita torehkan bersama. Melihat kesalahan dan kegagalan, sudah pasti bukan untuk menyesalinya dan menangisinya. Melihat kesalahan adalah untuk belajar agar tidak mengulanginya kembali.
Ada slogan animal yang cukup menggelitik dan tak gampang dilupakan. Keledai saja tidak akan terperosok untuk keduakali dalam lubang yang sama. Kita semua tahu, hewan keledai, selama ini, diasumsikan dengan dunia kebodohan. Keledai dianggap hewan dungu yang hanya bisa menuruti perintah saja.
Jika hewan yang selama ini dianggap tidak mempunyai kemauan sendiri dan bodoh, mampu untuk tidak mengulang kesalahan, tentu manusia yang dianggap mahluk lebih tinggi derajatnya akan mampu bertindak lebih baik dan sempurna dibanding keledai. Keledai mampu belajar dari sejarah masa lalunya, manusia tentu lebih pandai lagi .
Saat ini momentum untuk belajar kembali dari sejarah muncul seiring dengan pangakuan Andaryoko Wisnu Prabu sebagai pahlawan PETA (Pembela Tanah Air) Supriyadi yang puluhan tahun lalu dikabarkan hilang.
"Supriyadi" Andaryoko, tokoh pemberontakan pasukan PETA melawan tentara Dai Nippon ini, menunjukkan keberadaannya Sabtu (8/8/2008). Pejuang kemerdekaan itu muncul dalam sebuah acara peluncuran buku di Toko Buku Gramedia Semarang, Jalan Pandanaran. Buku yang dibedah juga terkait dirinya, 'Mencari Supriyadi, Kesaksian Pengawal Utama Presiden', tulisan sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Baskara T. Wardaya
Supriyadi sempat diwawancarai wartawan Jerman. Dia mengaku dirinya tidak mati atau hilang. Usianya sudah sangat lanjut, yakni sekitar 89 tahun. Menurut pengakuannya, untuk menghindari penangkapan tentara Jepang, dia mengganti nama. Saat bertemu Bung Karno di Pegangsaan Timur No 56, Supriyadi diminta pergi ke Semarang. Dia harus menemui Wakil Residen Semarang, Wongsonegoro.
"Saya diterima menjadi staf Kantor Residen Semarang. Nama saya diganti menjadi Andaryoko," kata Supriyadi seperti dikutip detik.com
Sejak memulai hidup di Semarang, Supriyadi memelihara kumis. Meski punya nama baru, di Jakarta, dia tetap dikenal sebagai Supriyadi.
Kemunculan "Supriyadi" Andaryoko sudah pasti membawa banyak kontroversi. Dengan versinya, Supriyadi yang ini menceritakan realita-realita yang lain tentang sejarah masa lalunya, berbeda dengan sejarah yang selama ini dibaca dan didengar orang.
Soal naskah proklamasi misalnya. "Supriyadi" Andaryoko mengatakan konsep naskah proklamasi yang baru berupa coretan tangan sempat diremas-remas tangan oleh Sayuti Melik. Setelah ditik dan dianggap tak berguna lagi, Sayuti membuangnya ke tempat sampah. Namun Bung Karno yang ingat akan konsep itu menanyakan kembali sehingga naskah dipungut dan disterika ulang hingga akhirnya
disimpan Bung Karno
Sementara versi yang selama ini kita ketahui, BM Diah-lah yang menyadari pentingnya arti hostoris naskah tersebut. Seperti ditulis sejarawan Nina Lubis, Diah memungut naskah coretan proklamasi dan diam-diam menyimpannya sendiri. Baru pada 19 Mei 1992, BM Diah menyerahkan naskah itu pada negara yang diterima sendiri oleh Presiden Soeharto.
Masih banyak pengakuan "Supriyadi" Andaryoko yang lain yang sangat berbeda dengan kisah yang saat ini beredar di permukaan. Bahkan soal Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dia juga mempunyai versi tersendiri yang berbeda sama sekali.
Mencoba mendalami kisah "Supriyadi" Andaryoko, tentunya tidaklah sekadar untuk menguak sosok Supriyadi yang sebenar-benarnya. Menelusuri Supriyadi ini adalah untuk menguak kebenaran yang terjadi di masa lalu. Meluruskan sejarah yang barangkali ada yang terbengkokkan sekaligus mempelajarinya sungguh-sungguh agar ke depan kita tidak tergelincir lagi oleh kesalahan yang sama.
Menyambut kemunculan Supriyadi, yang pasti dan sebaik-baiknya, bukanlah untuk makin mengkultuskan tokoh yang bersangkutan. Murca atau sirnanya sosok Supriyadi selama ini begitu kuat muatan supranaturalnya. Sehingga dengan kehadirannya, diharapkan mampu menyingkap tabir misteri yang selama ini menyelimuti tokoh tersebut.
Dengan kehadiran Supriyadi asli nantinya, biarkan semuanya menjadi jelas dan terang. Biarkan kebenaran masa lalu muncul ke permukaan, sehingga kita bisa belajar darinya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa belajar dari sejarah masa lalunya. ***