thx to romo putra dion atas kiriman fotonyaSBY Beriklan, Semua Beriklan, Kita Bagaimana?
Oleh:
RHR Dodi Sarjana
YOU are what your dress. "Pakaian" pada hakikatnya membungkus watak seseorang. Dan kemasan pada ghalibnya menyiratkan kualitas produk yang dikandungnya.
Oleh:
RHR Dodi Sarjana
YOU are what your dress. "Pakaian" pada hakikatnya membungkus watak seseorang. Dan kemasan pada ghalibnya menyiratkan kualitas produk yang dikandungnya.
PERSOALAN kemas-mengemas diri, akhir-akhir ini tidak hanya menjadi monopoli dunia bisnis saja. Kegiatan yang biasanya dilakukan para pengusaha itu, kini juga menjadi tren di kalangan pejabat, politisi, tokoh, dan orang awam yang ingin menjadi tokoh. Semua pasti mahfum, bahwa itu semua gara-gara, saat ini, mendekati masa-masa unjuk diri menjelang Pemilu 2009.
Tidak hanya yang akan mencalonkan diri jadi presiden yang "beredar" di relung-relung hati masyarakat Indonesia, yang berkehendak menjadi calon legislatif (caleg) pun juga berbondong- bondong mempercantik penampilan agar pas dan pantes di hadapan rakyat yang akan diwakilinya.
Jika sang pengusaha atau produsen mempercantik produk barunya dengan kemasan yang aduhai agar eye chatcing dan bisa bersaing dengan produk lama yang terlanjur dikenal konsumen, maka yang akan mencalonkan menjadi pemimpin dan politisi pun juga perlu berbenah diri. Lahir-batin.
Genderang masa kampanye belum terdengar ditabuh, bendera start pun belum dikibaskan, namun masa kampanye sepertinya sudah memasuki saat-saat pemanasan. Tidak hanya di media out door (baliho, spanduk, umbul-umbul dan lain sebagainya), di media cetak dan elektronik, partai peserta pemilu, para caleg dan tokoh calon presiden sering menampakan batang hidungnya.
Perang promosi jati diri sedang gencar dilakukan. Dalam tayangan televisi, tokoh-tokoh seperti Sutrisno Bachir, Prabowo Subianto, Rizal Malarangreng, Sutiyoso dan tokoh-tokoh lainnya rajin mengunjungi pemirsa.
Sapaan bertema persahabatan, persatuan dan menjaga sikap nasionalisme selalu mereka dengungkan. Tak jarang tayangan mereka seolah tampilan kisah film yang menyaingi kisah-kisah sinetron di televisi.
Bagi mereka, gencarnya promosi diri merupakan hal yang wajar dan sah-sah saja. Karena sepanjang usia republik ini, kiprah mereka belum melekat benar di pelupuk mata bangsa kita. Barangkali hanya sebagian kecil dari rakyat Indonesia yang mengenal mereka. Karenanya secara "sadar" mereka harus berani tampil bak artis film atau sinetron yang rajin mengunjungi penggemarnya.
Dalam tampilan mereka, para tokoh tersebut tampak berusaha keras untuk mencitrakan diri sebagai orang yang peduli akan nasib orang kecil. Nasib warga kebanyakan yang ada di bumi pertiwi ini.
Selama ini, sikap mereka yang peduli akan kehidupan rakyat cilik memang belum teruji benar. Barangkali, meski sudah ada hal-hal kecil yang mereka lakukan, namun perbuatan itu masih kental sebagai wacana belaka. Indikasi yang paling gampang untuk mengukur hal itu adalah, sampai saat ini, sepertinya belum pernah ada lembaga yang memberi mereka penghargaan atas perhatian mereka kepada kehidupan kaum papa.
Untuk itulah mereka memang harus banting tulang mengemas diri seperti yang mereka tampilkan saat ini di media elektronik dan cetak. Mereka yakin, ketika sosok "penuh perhatian" yang mereka citrakan melekat di mata dan hati rakyat penikmat televisi, diharapkan itu akan membenam dalam impian bawah sadar rakyat, yang pada gilirannya nanti (saat pemilu) akan muncul dan menjelma menjadi keputusan untuk memilih calon mereka. Siapa calon itu? Tentunya para tokoh yang mampu membidikan "panah cinta" ke jantung hati pemirsa televisi.
***
Fenomena tampil di media, semakin hari semakin mengental. Bahkan "virus" itu menulari Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), yang sebenarnya sudah terkenal hingga ke pelosok-pelosok negeri. Takutkah SBY tersaingi populeritasnya oleh Sutrisno, oleh Prabowo, atau oleh pendatang baru Rizal yang nota bene adik kandung juru bicara presiden, Andi Malarangreng?
Kita boleh berpendapat dan mengomentari penampilan presiden. Pengamat juga berhak untuk memberikan kajiannya. Namun alasan yang benar-benar menjadi alasan kemunculan presiden, tentulah presiden dan tim-nya sendiri yang mengetahui secara pasti.
Dugaan sementara, kehadiran sosok SBY dalam berbagai format iklan Partai Demokrat (PD) di media massa cetak dan elektronik, dimaksudkan sebagai pemanasan untuk pencalonannya kembali dalam Pilpres 2009. Betulkah?
Untuk sementara (pula) rasa penasaran kita diobati oleh seteguk jawaban Ketua PD Andi Mallarangeng yang juga juru bicara SBY. "Itu iklan PD, bukan iklan SBY. Untuk pencalonannya kembali, beliau masih menunggu saat yang tepat," ujar Andi.
Beberapa partai politik kontestan Pemilu 2009 memang juga membuat iklan serupa. Di dalam iklan tersebut juga tampil ketua umum atau para petinggi dari partai bersangkutan. Partai Demokrat beranggapan, jika parpol lain menampilkan ketua umum, maka PD juga menampilkan (SBY) sang ketua dewan pembina.
Namun ada hal menarik dalam tayangan iklan PD. Iklan tersebut memuat Pidato Kenegaraan Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1957 silam dan "jawaban" pidato dari SBY pada 16 Agustus 2008.
Pidato presiden pertama RI berisi keprihatinannya terhadap kondisi bangsa. "Akan tenggelamkah kita, saudara-saudaraku? Akankah Indonesia mulai runtuh dan ambruk?"
Sementara di bagian bawahnya, disambung pidato SBY dengan judul "Tidak" dalam ukuran besar. "Hari ini, kita bersama-sama menyaksikan negara kita, Indonesia masih tetap tegak berdiri dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Marilah kita buktikan, 10 tahun, 50 tahun dari sekarang ini, bahkan sampai kapan pun, Insya Allah, Negara kita bukan hanya tetap tegak berdiri, tetapi juga akan semakin maju dan sejahtera," demikian pidato SBY.
Pidato SBY dimaksudkan untuk menjawab kekhawatiran akan terjadinya perpecahan pada bangsa Indonesia. Indonesia saat ini, dinilai sudah jauh lebih baik dibandingkan masa sebelumnya. Menurut sang pembuat iklan, tidak ada presiden Indonesia yang benar-benar mampu menyelesaikan persoalan bangsa selain SBY. Contohnya, saat ini konflik Aceh, Poso, Papua, sudah reda semua.
Namun tentunya bukan hanya soal redanya konflik saja yang menjadi harapan kita bersama. Bagaimana memajukan dan mensejahterakan kehidupan rakyat Indonesia secara keseluruhann lah yang menjadi impian kita bersama.
Tapi...nggomong-omong, Anda juga mulai tertarik membangun citra diri kah? Buruan deh, mumpung musim tabur mimpi masih berlangsung. ***
----------------------------------------
* Catatan tambahan
Iklan dibalas dengan Iklan: Mungkinkah Sebaran foto bareng SBY dengan ratu suap Artalyta Suryani yang kini tersebar di masyarakat luar merupakan tanggapan atau promosi tandingan diri presiden?
Sumber: Tribun Pekanbaru, Edisi Jumat (22/8/08)
Foto Bareng SBY-Artalyta Tersebar Luas
* Jaksa Urip Dituntut 15 Tahun
JAKARTA, TRIBUN - Permainan baru di gelanggang politik tampaknya tengah bergulir lagi.
Setelah beredar foto Kapolri Jendral Polisi Sutanto, kini Artalyta 'tertangkap basah' dekat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Artalyta foto bareng bersama orang nomor satu di republik ini pada saat berada di acara resepsi pernikahan keluarga besar Artalyta. Foto ini diyakini sebagai Presiden SBY bersama istrinya, Ani Yudhoyono bersamaan dengan kehadiran Kapolri Jendral Polisi Sutanto saat itu.
Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Politik, Anas Urbaningrum, Kamis (21/8) menyatakan, foto itu memang sengaja dikeluarkan dengan maksud untuk menurunkan citra Presiden SBY jelang Pemilu 2009. Anas tegas menyatakan, foto itu tak lain dari strategi black campaign dari lawan- lawan politik Presiden SBY yang kemungkinan akan mencalonkan kembali sebagai capres 2009.
Dua foto Presiden SBY bersama Artalyta itu pertama kali ada di beberapa milis. Foto yang pertama memperlihatkan Presiden SBY sedang bersalaman dengan Artalyta. Sementara foto yang kedua, Presiden SBY terlihat sedang berpose dengan pengantin.
"Boleh jadi, itu adalah kampanye hitam kepada Pak SBY. Maklum, sekarang ini kan jelang Pemilu 2009, jadi pasti ada pihak-pihak yang ingin memanfaatkan untuk mencoba menjatuhkan popularitas beliau," kata Anas Urbaningrum.
Juru Bicara kepresidenan Andi Mallarangeng juga mengomentari beredarnya foto Presiden SBY dengan penyuap Jaksa Urip Tri Gunawan, Artalyta Suryani. Andi dengan bahasa diplomatis menyatakan, siapapun apalagi seorang preisden, tentu kenal dengan siapa saja.
"Siapa saja orang dalam satu acara, presiden bisa saja kenal banyak orang dan hubungan-hubungan sosial yang segala macam, tapi presiden tidak bisa seperti saya, Anda dan semua orang, tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan orang yang Anda kenal atau tidak kenal atau siapapun," kilah Andi Mallarangeng saat ditemui di Wisma Negara (........selengkapnya juga bisa Anda baca di: www.tribunpekanbaru.com)



