
Indahnya Coblosan di Bulan Puasa
Oleh:
RHR Dodi Sarjana
Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat.
MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat.
Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri.
Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru.
Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga membawa berkah yang lain. Di sepanjang bulan suci ini, di beberapa daerah bakal dan sedang menggelar acara demokrasi paling akbar. Warga di beberapa daerah sedang dan bakal memilih pemimpin baru mereka.
Dengan pemimpin baru nanti, siapa pun mereka yang terpilih (entah tokoh lama atau benar-benar baru), hidup baru juga akan dijalani warga yang sedang meretas proses demokrasi. Dengan pemimpin baru, tentu harapan kehidupan baru juga membersit di benak semua orang.
Di Sumatera Selatan, pertarungan untuk merebut kursi bermahkota tengah diperebutkan antara SOHE (Sjahrial Oesman-Helmy Yahya) melawan ALDY (Alex Noerdin-Eddy Yusuf). Ketenaran Helmy Yahya yang sering nongol di layar televisi dan branding-nya sebagai tokoh peduli orang susah (dalam acaranya bagi-bagi rezeki di tv) akan ditunggu tuahnya.
Di Lampung, saat ini juga tengah digelar pertarungan calon Gubernur. Ada tujuh pasangan yang sedang berpeluh dan berdaki untuk memperebutkan tempat terhormat di sana. Tidak ketinggalan pula di Bumi Lancang Kuning, Riau, juga tengah terjadi pergulatan calon Gubernur oleh tiga pasang "kekasih".
Untuk ranah Melayu, Riau, yang akan menggelar Pilkada 22 September 2008 nanti, kita semua berharap, pemimpin Riau di masa mendatang mampu memberikan kehidupan baru yang lebih nyaman dan aman. Jika ada kekurangan selama ini yang dirasakan masyarakat, diharapan nantinya semuanya bisa tertutupi dengan indah.
Saat-saat puasa tentu mengandung banyak jejak dan makna, baik dari sudut pandang spiritual maupun sosiokultural. Kita semua berharap dan berdoa, semoga pemilihan pemimpin di bulan suci ini, kelak juga mampu menciptakan suasana kehidupan yang penuh dengan rasa solidaritas sosial.
Ramadhan sebagai bulan suci mendaraskan ajaran kepada kita semua untuk menahan diri dari meluapnya rasa kebencian, kedengkian, pertikaian antarsesama manusia. Visi perdamaian dalam Ramadhan menuntut kita untuk menghindari sikap permusuhan di antara sesama manusia. Karena itulah, tepat jika ketiga calon pasangan pemimpin Riau, Kamis (4/9) sore kemarin, berikrar untuk melakukan kampanye damai.
Pasangan CS (Chaidir-Suryadi), RZ-MM (Rusli Zainal-Mambang Mit), dan Tampan (Thamsir Rahman- Taufan Andoso) sepakat melaksanakan kampanye sejuk, aman, damai, sopan, tertib, edukatif dan mengendalikan pendukungnya agar tidak anarkis.
Mereka juga bertekad mewujudkan pemilihan dengan asas langsung, umum, rahasia, jujur, adil, damai, dan demokratis, selain juga berjanji untuk bersikap kasatria menerima kekelahan.
Memang pesan substansial dalam ajaran Ramadhan adalah menciptakan perdamaian sejati, bukannya memperbanyak perselisihan, dan pertikaian. Perdamaian sejati harus menjadi paradigma fundamental dalam pergaulan antarsesama umat manusia meski berbeda kelompok, organisasi, suku, bangsa, dan agama.
Perdamaian merupakan cita-cita bersama umat manusia. Tidak hanya dalam masa kampanye Pilkada saja, namun cita-cita itu tetap harus digelar terus sepanjang kehidupan di tanah Riau ini. Dan cita-cita itu dapat terwujud jika umat manusia memiliki kesadaran tentang toleransi dan adanya keadilan (kesetaraan) dalam kehidupan sosial.
Di bulan suci Ramadhan ini, kita semua dituntut untuk selalu memaknai perdamaian dalam konteksnya yang paling aktual agar tidak sekadar menjadi perilaku simbolik, tetapi benar-benar substansial, yaitu untuk ibadah dan kedamaian.
Dengan melakukan kampanye damai di bulan puasa, kita diharapkan mampu melihat dan mampu menggerakkan seluruh potensi warga menuju Riau baru, dengan tatanan masyarakat madani yang etis, demokratis, egaliterian, dan sesuai kehendak Ilahi yang harmonis.
Karenanya, mari kita jadikan bulan Ramadhan kali ini sebagai momentum untuk bebenah diri, introspeksi, cooling down, kontemplasi, dan merefleksi diri, baik sebagai individu yang lemah di hadapan Tuhan maupun sebagai rakyat yang sedang bertaruh demi masa depannya ***
4 komentar:
Cocok Pakdhe. Indahnya kalau semua berdamai. Hidup perdamaian,...perdamaian....perdamian...peerrr...da..maaaiiiaan
Tepak tenan iki
Cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan he..he..., mampir neng nggonku ya, http://www.yawisngeblogwae.blogspot.com
Nun Inggih Kanjeng Sinuwun. Leres panjenengan, kamardikan punika andasari sedayanipun. Merdiko! mangga melestarikan suruh abrit
Poskan Komentar