Padi Kosong Ramai Isunya
Oleh:
RHR Dodi Sarjana
PADI merunduk tandanya berisi. Namun jika sudah merunduk tak jua berisi, itu namanya super kopong. Ohh...nasibmu padi Super Toy HL2.
PENEMUAN padi Super Toy HL2, menjadi riak gelombang dalam perjalanan kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama menjadi presiden ke-6 Republik Indonesia.
Seakan melengkapi kesialan SBY dengan Blue Energy-nya, Super Toy HL2 benar-benar super toy (baca: super mainan) bagi lawan politik SBY untuk memain-mainkan branding (figur) SBY menjelang Pemilu 2009.
Lawan politik presiden yang lemah lembut ini, sontak berebutan menorehkan tinta hitam tebal dalam agenda kerja harian mereka: SBY MUDAH DITIPU DAN GAGAL MENGENTAS KESENGSARAAN RAKYAT.
Kali pertama, "aksi' peduli kebutuhan rakyat SBY terantuk batu besar ketika dia dengan semangat merespon penemuan Blue Energy, bahan bakar berbasis air. Penemuan itu tak terbukti kebenarannya, bahkan berbau penipuan.
Kali kedua, presiden yang juga pencipta lagu ini direpotkan oleh temuan padi Super Toy, yang konon kabarnya produksinya mampu digenjot secara besar-besaran. Namun sayangnya, keampuhan padi tersebut tidak terbukti. Bahkan, padi Super Toy yang sempat dipanen Presiden 17 April 2008, memicu kemarahan petani karena pada panen kedua isinya kopong.
Jangan main-main dengan padi atau beras. Benda atau sebut saja barang yang satu ini cukup angker. Urusannya sangat erat terkait dengan urusan perut. Ketika perut lapar, kosong, dan tak ada lagi yang bisa dimakan, bisa menyulut aksi anarkis seseorang atau sekolompok orang.
Beruntung jika gara-gara perut kosong hanya berdemo saja. Bagaimana jika terjadi aksi brutal yang lebih mengerikan?
Dalam guliran roda sejarah kehidupan, persoalan pangan, tercatat seringkali menyebabkan tampuk pimpinan jebol. Longsor digerus rakyat yang gelap mata, gelap hati, dan gelap masa depan. Dalam sejarah nusantara, pada abad ke-16-18, kerajaan Mataram pernah mengalami pasang surut gara-gara kelangkaan pangan. Pada saat itu, penguasa sebenarnya sudah sadar betul untuk memanfaatkan beras sebagai komoditas politik.
Para raja yang berkuasa menyadari beras merupakan simbol stabilitas ekonomi dan politik. Jika terjadi masalah dengan produksi beras, pasti ada pula masalah dengan kekuasaan. Sebaliknya, kerajaan dan raja akan diagung-agungkan bila masalah beras bisa dikendalikan. Sayang, Mataram akhirnya gagal mengelola urusan beras. Tamatlah riwayatnya.
Di awal kelahiran Indonesia, politik beras juga berperan kuat. Presiden Soekarno yang banyak memotret penderitaan masyarakat, berani menyatakan menolak impor beras. Indonesia yang gemah ripah loh jinawi, subur tentrem kertorahajo (melimpah kekayaan alamnya dan subur serta aman tentram), bisa mencukupi pangan sendiri.
Momen yang sangat penting dalam kisah Presiden pertama RI ini, saat pertemuannya dengan petani bernama Kang Marhaen di Bandung selatan. Pertemuan itu makin menunjukkan keberpihakan Soekarno pada rakyat kecil. Nama Marhaen sendiri akhirnya dipakai oleh Soekarno untuk mencirikan petani Indonesia yang miskin tanpa tanah. Sayang, upaya pemerintah untuk mencukupi kebutuhan sendiri, kala itu, masih banyak retorikanya. Aplikasinya masih kurang.
Sementara sejarah juga mencatat, Presiden kedua Soeharto akhirnya jatuh, saat harga beras melambung di tahun 1998. Lengkaplah sudah. Keangkeran beras menjadi semakin terkukuhkan. Keberadaannya mampu menentukan berlanjut tidaknya laju kepemimpinan seseorang.
***
SAMPAI saat ini, beras masih menjadi sarana ampuh untuk menarik simpati rakyat. Jauh sebelum SBY memanen padi Super Toy, oposisi pemerintah, PDI Perjuangan sudah lebih dulu mengembangkan jenis padi Mari Sejaheterakan Petani (MSP).
Saat Megawati (yang mantan Presiden dan putri Presiden Soekarno) mengkampanyekan PDIP, dibarengi dengan acara menanen beras MSP. Banyak warga yang hadir kemudian mengubah arti dari beras MSP ini dengan kepanjangan dari Megawati Soekarnoputri.
Jenis padi yang pertama kali ditemukan oleh warga Bogor bernama Surono Sunu ini, diyakini memiliki kelebihan dibanding varitas lain yang saat ini banyak ditanam petani. Padi jenis MSP, katanya, bulirnya lebih banyak dan nasinya lebih gurih. Hingga kini, belum ada petani yang mengeluhkan jenis padi ini.
Sebenarnya, lampu merah pengadaan beras, sudah lama menimpa tanah air kita. Gara-gara stok nasional semakin menipis, harga beras hampir di seluruh wilayah Indonesia seringkali mengalamai kenaikan yang cukup drastis.
Mencoba menelisik kelangkaan dan kenaikan harga beras, merupakan akumulasi kenaikan harga beras selama beberapa tahun terakhir. Dan ini, adalah buah simalakama politik beras. Impor beras diprotes, tidak impor harga naik, rakyat miskin pun bertambah.
Dalam beberapa kasus, impor beras sebenarnya adalah hal yang amat biasa. Jika stok yang dikuasai pemerintah menipis, harus impor untuk operasi pasar. Jika tidak, rakyat akan kelaparan. Tetapi, setiap kali pemerintah berniat mengimpor beras, selalu ada protes, bahkan DPR sempat hendak menggunakan hak angket dan hak interpelasi. Dalam hal ini, beras lalu bukan hanya jadi komoditas ekonomi, melainkan juga komoditas politik.
Itulah sebabnya, tidak terlalu aneh jika selama ini tak pernah ada pihak yang mempermasalahkan kemungkinan terjadinya korupsi dalam pengadaan beras. Seringkali aparat keamanan dan bea cukai telah menemukan bukti-bukti penyimpangan. Beberapa kapal tertangkap tangan membawa beras dari Thailand dan Vietnam, tanpa dokumen lengkap. Namun karena beras merupakan komoditas politik, maka penolakan impor selalu dikaitkan dengan nasib petani. Bukan dugaan adanya korupsi.
Selama ini pola pikir kita soal pangan memang masih subsisten. Artinya, menanam padi secara tradisional, untuk kepentingan keluarga sendiri. Untung atau rugi tidak masalah. Sistem pertanian modern, berupa lembaga petani, lembaga penyimpan data, lembaga pemberi kredit, dan lembaga asuransi, tidak pernah terbangun di Indonesia.
Menurut pengamat sosial-politik sekaligus penyair, F Rahardi, pola pikir itu mendasari pemikiran pemerintah dan para polisitisi kita. Mereka berpolitik dan memerintah negeri secara tradisional, untuk kepentingan "keluarga sendiri". Ketika Megawati menjadi presiden, para politisi Golkar paling sering berkomentar tentang kebijakan beras nasional. Belakangan, politisi PDI-P lebih gencar menentang impor beras. Itulah politik subsisten.
Ah......sudahlah. Mari kita putihkan saja persolan itu. Lebih baik mari kita pikirkan soal beras, soal pangan ini secara bersama-sama. Kalau perut tetap kosong keroncongan, kita tidak akan bisa memikirkan hal yang lebih besar lagi. Dunia makin mengglobal, modern, dan maju, kita jangan sampai tergilas olehnya.
Kenyangkan perut, pikirkan kehidupan lebih baik dan kembangkan teknologi.***
Catatan
* Konon kabarnya, Super Toy HL2 adalah singkatan penemu padi, yakni Supriyadi Toyong. Lha HL2-nya apa? Itu nama Heru Lelono, staf ahli Presiden SBY yang mentenarkan Blue Energy dan Super Toy HL2
4 komentar:
Sukses bos Dodi untuk bertus berpetualang
Bersatu kita teguh, berpetualang kita senang. hehehehe gak nyambung ya Bung Domu!? Sukses juga buat Bung
S3 kok bisa dikibuli di science gitu si...suruh lanjutkan????halaaah...
komentar telat ( isu super toy basi ga si)ga masalah...karena saya (maaf) selalu sebel sama orang yang gampang percaya dengan pribadi yang dikesankan stabil,sok runut saat berbicara (biar dikira intelek kali),damai,aman...tapi ga sadar kalo dibikin goblok....gimana ga goblok????its a big toy!!!???
Poskan Komentar