Selasa, 12 Agustus 2008

Makna Nomor


Makna Nomor dan Aura Pemimpin
Oleh:
RHR Dodi Sarjana

Satu jumpa satu, dua jadinya. Dua yang setuju bersatu jadinya. Semua bersatu, mari membangun negeri

ANGKA. Diyakini banyak orang membawa makna. Angka satu tentu berbeda dengan angka sembilan atau angka sepuluh yang kalau ditulis sebenarnya tetap mengandung angka satu (satu dan nol/1 & 0 = 10).
Angka kecil, kata semua orang di dunia, menunjukkan urutan terbaik. Sang juara disebut nomor satu. Juara setelah nomor tiga, selalu disebut juara harapan. Begitu seterusnya, dan yang keberuntunganya "kecil" seringkali hanya disebut masuk sepuluh besar atau lima besar.
Itu baru soal urutan, belum lagi kalau "dihitung" secara njlimet ala nuansa paragnos atawa supranatural. Persoalannya pasti berbeda dan lebih berwarna lagi. Macam-macam penafsiran akan muncul terkait angka-angka tersebut.
Angka satu bisa dimaknai satu rasa, manunggal, punya pendirian. Angka dua, dari sisi positifnya juga mengandung kebaikannya sendiri. Dua ibarat hakikat kehidupan ini, ada laki dan perempuan, ada siang dan malam, ada kebaikan dan kejahatan. Jadi dua seolah sempurna.
Angka tiga juga tidak kalah bagusnya. Tiga ibarat timbangan; ada yang ditengah sebagai penyeimbang dan dua di sisi kanan kirinya. Mendapat anugerah angka tiga, bisa dimaknai akan mampu membawa keadilan. Demikian pula untuk angka-angka berikutnya; empat, lima, dan seterusnya punya kebaikan masing-masing.
Membicarakan kemungkinan-kemungkinan di balik angka tidak akan ada habisnya. Bahkan akan mendorong munculnya perdebatan seru. Namun yang pasti setiap angka tetaplah membawa keberuntungan bagi masing-masing orang.
Contohnya angka 13. Meski saat ini banyak yang menyakini angka tersebut pembawa sial, tapi bagi orang-orang tertentu, angka tersebut katanya justru membawa keberuntungan.
Persoalan angka, lagi-lagi menjadi perbincangan menarik menyusul penetapan nomor urut partai politik peserta Pemilu (Pemilihan Umum) dan pasangan calon peserta Pilgub (Pemilihan Gubernur).
Wiranto yang partai Hanura-nya mendapat nomor satu, menyatakan beruntung karena nomor satu akan mudah diingat. Sementara PKB yang mendapat nomor urut 13 tidak khawatir akan mendapat masalah. Partai ini justru menyatakan angka tersebut akan membuat mereka beruntung.
Demikian pula partai-partai lain, meski dalam hati kecil pengurusnya ada yang tidak sreg (nyaman) dengan angka urutannya, namun ekspresi mereka tetap menyatakan keoptimisannya dengan angka yang mereka peroleh.
Mau tidak mau mereka harus menerima angka yang sudah dipilihnya, dan menyakininya ada sisi-sisi keberuntungan yang dibawa angka-angka tersebut.
Soal nomor urut, Senin (21/7/08), juga menjadi penantian dan perhatian utama masyarakat Riau. Dalam rapat pleno terbukanya, KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah) Riau menetapkan nomor urut 3 pasang calon gubernur dan wakilnya. Ketiga pasangan itu bakal berebut sekitar 3,2 juta suara masyarakat Riau.
Pasangan Chaidir-Suryadi Khusaini yang diusung PDI Perjuangan dan PBB ini mendapat nomor 1. Calon Gubernur dari pasangan yang akrab disebut CS ini adalah mantan Ketua DPRD Riau dan sebenarnya sebagai kader Golkar. "Coblos Satu," kata Chaidir seolah mempadupadankan CS sebagai Coblos Satu.
Pasangan Rusli Zainal-Mambang Mit (RZ-MM) mendapat nomor urut 2. Pasangan ini diusung Partai Golkar, PPP, PBR, dan PKB. Rusli adalah incumbent dan menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Provinsi Riau. Sedangkan Mambang Mit sebagai Ketua Korpri Riau merupakan mantan Sekda Provinsi Riau. "Itu angka dari Tuhan," kata Rusli mengomentari nomor urutnya.
Rusli memang tidak memilih nomor itu, karena kebutulan dia datang terakhir, sehingga dia hanya mendapatkan "sisa" angka saja. Namun yang pasti, angka dua kata Rusli angka di tengah. Jadi bisa membuat penyimbang (keadilan) bagi warga pemilih.
Sedangkan mantan Bupati Inhu Thamsir Rachman dengan pasangannya Ketua DPW PAN Riau Taufan Andoso mendapat nomor urut 3. Pasangan ini dikenal masyarakat dengan julukan Tampan. Akankah nomor urut 3 akan membuat nasibnya se-tampan singkatan namanya? Waktu nanti yang akan membuktikannya.
Bagaimanapun nomor 1, 2, dan 3 sudah diputus siapa pemiliknya. Masing-masing pasangan pemilik nomor tersebut suka-tidak suka, mau-tidak mau, harus menyakininya sebagai nomor keberuntungan masing-masing.
Yang pasti, dalam kiprah kampanye nanti, mereka justru dituntut untuk membuat nomor urut tersebut menjadi lebih beraura. Mereka harus bisa menyakinkan masyarakat bahwa nomor yang mereka punyailah yang cocok untuk dicoblos nantinya.
Seribu satu cara mungkin sudah direncanakan tim sukses peserta pilkada guna memikat calon pemilih. Daftar "janji kampanye" mungkin telah diketik rapi. Tinggal disuarakan. Atraksi unik hingga "nakal" pasti telah dipersiapkan. Intinya, para pemilih akan dirayu. Rayuan siapa yang paling manjur? Terlalu dini menjawabnya sekarang.
Ratusan bahkan ribuan simpatisan dihadirkan tim sukses guna membangun psikologis masyarakat akan kuat dan hebatnya calon pemimpin yang diusung. Membentuk psikologi massa pemilih akan kekuatan dan kehebatan calom pemimpin di satu sisi mungkin efektif. Tapi di sisi lain, kampanye yang tak terkontrol dan buruk bisa mempengaruhi dan menciptakan persepsi buruk masyarakat terhadap calon tersebut.
Perlu kita ingat, kampanye pada dasarnya adalah bagaimana memenangkan hati masyarakat dengan memberi contoh yang baik. Karenanya tim sukses dan calon pemimpin ditantang untuk kembali membangun optimisme masyarakat bahwa calon pemimpin yang bersangkutan dapat dipercaya. Kampanye bisa dijadikan langkah awal. Bukan ajang sesumbar.
Sementara nomor urut, tetaplah nomor. Dia akan memberikan makna baik jika pembawanya juga berkelakuan baik.***

0 komentar: