Minggu, 09 Desember 2007

SexiBiz


Bukan Sekadar Sex
Oleh:
RHR Dodi Sarjana

Reality is not reality. In marketing, perception is reality (Dolan and Smith).



LUANGKAN waktu barang sejenak, amati paparan iklan di berbagai media cetak dan elektronik. Apa yang Anda temukan? Ada yang lain daripada yang lain dalam beberapa tayangan iklan akhir-akhir ini. Very attractive! Banyak sensasi kita temukan di sana.
Economic growt yang pesat terbukti menciptakan perubahan sosial-ekonomi yang menyentak. Pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang melanda masyarakat dunia, menciptakan berbagai perubahan gaya hidup sekaligus membuka peluang bisnis yang luar biasa besarnya.
Peluang yang tercipta, mendorong lahirnya dunia usaha yang sangat kompetitif. Semua bidang usaha mulai dari usaha jasa, urusan perut, kenikmatan duniawai, real estate, kendaraan dan lain-lain, tumbuh dengan suburnya dan saling berhimpitan.
Dalam ketatnya persaingan ini, siapa yang tidak inovatif sudah pasti akan tergeser. Diperlukan satu terobosan baru dalam melihat pasar, memasukinya, menganalisa lalu menguasainya.
Melihat tayangan iklan, terasa terjadi penyimpangan perilaku konsumen. Dan deviasi itu telah diantisipasi dengan jeli oleh para produsen. Mereka melihat bahwa konsumen seringkali tidak lagi peduli pada produk yang ditawarkan, tapi lebih interest pada cara bagaimana produk itu dijual.
Produk unggulan, dewasa ini, sepertinya tidak lagi penting bagi konsumen. Membanjirnya beraneka macam produk, membuat konsumen banyak pilihan dan bebas memilih.
Itulah sebabnya upaya parade iklan di media dirasa cukup efektif mempengaruhi konsumen dalam memilih kebutuhannya. Sensasi iklan secara terus menerus akan "membantu" konsumen untuk mengingat produk yang dibutuhkan.
***
SEBUAH kereta api tiba-tiba lewat. Mobil sedan yang diparkir dekat rel kereta mendadak berjalan sendiri. Belum sampai tersenggol kereta, suuut... mobil terhenti sendiri. Sepasang suami istri yang ada di dalamnya kaget. Tapi berangsur wajah mereka terlihat lega. Mobil terhenti karena rodanya terganjal kotak alat kontrasepsi. Insiden "kecelakaan" pun urung terjadi. Iklan nakal!
Atau mungkin Anda pernah mengamati iklan rokok yang menampilkan sosok perempuan, iklan mobil dengan asosiasi wanita? Atau iklan-iklan lain dengan sensasi-sensasinya yang lain pula. Atau produk sebuah rokok dengan bukan basa-basinya? Itulah realitas iklan yang tidak lagi menampilkan produk, tapi lebih menonjolkan suasana dan imaji.
Saat ngobrol di sebuah cafe dan melihat sebuah produk rokok yang ditawarkan oleh wanita-wanita cantik, dengan berkelakar seorang teman menyatakan bahwa konsep pemasaran selama ini ternyata masih kurang lengkap.
Jika selama ini kita hanya mengenal 4P (price, product, placement dan promotion), lalu Philip Kotler menambahinya lagi dengan 2P (power dan public relations), menurut teman tadi perlu ada satu P lagi. Apa itu? P yang ini adalah perempuan. Ini tentunya bukan bermaksud merendahkan, tapi itulah realita bisnis selama ini. Sensasional. Dan sensasi selain wanita dalam iklan juga ada, bahkan banyak.
Pakar marketing sekaligus praktisi bisnis Kafi Kurnia pernah melontarkan gagasan berani tentang strategi pemasaran Sex Marketing. Tapi jangan salah duga, sex yang dimaksud Kafi bukanlah soal perkelaminan, persetubuhan atau soal "kekuasaan" yang dikendalikan oleh sex seperti dalam tampuk pemerintahan raja-raja. Bukan pula filsafat dan kekuasan sex-nya Michael Faoucault seperti tertuang dalam The History of Sexuality. Serta bukan sekadar Sex in Advertising dan juga tidak soal Power Sexuality.
Sex-nya Kafi, demikian seperti disinggung pula oleh Am Lilik Agung dalam Starategi Bisnis-nya, adalah Sensansional, Entrepreneuship dan faktor X. Ketika sebuah produk tiba-tiba menjadi banyak pesaingnya, atau mendadak dia menjadi produk yang membosankan atau ketinggalan zaman, maka produk tersebut perlu "dimanipulasi" lewat iklan agar lebih sensasional.
Menurut Kafi, lebih baik saat ini lupakan produk, tapi perhatikan siapa konsumen Anda. Bila perlu, kata Kafi lagi, buang jauh-jauh teori diferensiasi produk. Ganti saja dengan diferensiasi konsumen. Dengan begitu para marketing harus selalu mendekati konsumennya lewat iklan dengan memunculkan iklan-iklan nyleneh atau beriklan secara terus menerus.
Hanya orang-orang yang mempunyai jiwa entrepreneurship lah yang bisa memunculkan iklan-iklan penuh sensasi. Tidak harus belajar di ujung dunia untuk menjadi seperti itu, tapi perlu kesabaran, kejelian serta ketelatenan dalam melihat dan menangkap peluang. Selebihnya selalu inovatif.
Selanjutnya, jika sudah bisa mengaplikasikan sikap entrepreneurship, biarkan faktor X-nya yang berjalan. Apakah dia? Dialah yang dinamakan keberanian, keberuntungan dan kebetulan. Hanya orang-orang yang berani saja yang mempunya peluang beruntung cukup tinggi. Sementara orang yang tak pernah berani mencoba, dia tak akan pernah mendapatkan apa-apa. ***


psichobiz atawa psikologi bisnis (2)


Memenangkan Cinta
Oleh:
RHR Dodi Sarjana

A brand is not developed in one night. Success story a brand is determined in decades, not in years. (Al Ries and Laura Ries).

SADARKAH kita, jika sedari membuka mata di pagi hari, hingga "ritual" memejamkan mata di malam hari, parade iklan seolah tiada habis-habisnya mengisi perputaran hidup manusia? Kehidupan kita seolah nyaris dipenuhi iming-iming beragam iklan.
Jika dalam rengkuhan waktu yang sama, semua media massa tersaji di sekitar kita, maka begitu kita terbangun di pagi hari, mata langsung menangkap tayangan iklan di televisi. Lalu saat kita memungut koran yang dilemparkan loper di depan pintu, mata kita pun langsung "dihibur" oleh iklan yang terselip di antara berita.
Ketika kita mandi, sementara istri memasak di dapur, iklan yang dikumandangkan pesawat radio juga akan menembusi dinding-dinding kamar mandi dan menyeruak di antara peralatan dapur. Mengusik telinga.
Dalam perjalanan ke kantor, iklan juga mencuri perhatian. Billboard maupun spanduk yang bertebaran di sepanjang jalan, ikut andil memberikan indikasi terjadinya persaingan bisnis yang semakin ketat.
Banjir produk, saat ini, tengah mengepung konsumen. Dalam satu produk sejenis, banyak pilihan yang ditawarkan kepada pembeli. Dengan itu konsumen dimanjakan. Celakanya, dalam kondisi tertentu, banyak konsumen yang tidak lagi peduli fungsi dan kualitas barang yang mereka pilih. Sepanjang apa yang ada dalam ingatannya itulah yang akan dia wujudkan.
Dalam era berjubelnya produk di pasaran, barang-barang yang sering dikomunikasikan kepada masyarakat lah yang akan menancap di otak manusia. Suka tidak suka, komunikasi produk yang intens seringkali menjadi penuntun dan pendorong konsumen untuk menentukan pilihan dalam membeli barang.
Jujur harus diakui, selama ini ada kelemahan konsumen yang dimanfaatkan produsen atau marketer. Why They Buy, karya psikolog kondang Robert Settele dan Pamela Alreck, menyatakan bahwa kebanyakan orang tidak bisa menjawab ketika ditanya mengapa seseorang membeli apa yang ingin mereka beli.
Barangkali sebenarnya mereka tahu, tetapi sulit menemukan alasan yang tepat. Yang lebih celaka lagi dan ini sering terjadi, mereka ternyata benar-benar tak mengerti latar belakang dan motif membeli barang.
Pembeli-pembeli tersebut, membelanjakan uangnya hanya karena dorongan sesaat, tersulut sikap emosinal belaka. Para pembeli di ranah ini memang tidak bisa dikategorikan sebagai market andalan. Mereka gampang goyah dan terbius imajinasi iklan.
Namun, jika kita bisa mengelolanya, menumbuhkan rasa setia di hati mereka terhadap produk kita, bukan tidak mungkin mereka berubah menjadi market potensial.
Banjir iklan mengindikasikan terjadinya pertarungan bebas dalam merebut pasar. Dan entah karena pengaruh psikologis individual atau akibat dorongan kolektif sikap sosial masyarakat, terbukti bahwa sebagian besar pengusaha atau produsen lebih suka melakukan perburuan pelanggan baru (customer acquisition).
Dari dunia sepakbola muncul teori, pertahanan yang baik adalah dengan menyerang. Jika diaplikasikan dalam dunia marketing, mempertahankan pelanggan (customer retention) adalah dengan merebut pasar baru. Teori ini tidak terlalu salah, namun menggelisahkan.
Serangan yang bertubi-tubi, seringkali membuat kita terlena dan lupa mempertahankan yang sudah ada di tangan. Dalam banyak kasus, produsen selalu menuntut kesetiaan pelanggannya, namun mereka lupa mencontohkan kesetiaan itu sendiri. Seringkali pasar lama kurang diperhatikan karena dirasa sudah jadi bagian dari hidup produsen.
Menyerang pasar adalah juga dengan menunjukkan kesetiaan kepada konsumen. Membangun kesetiaan pelanggan, sebaiknya dimulai dari kesetiaan kita sendiri sebagai marketer terhadap customer kita masing-masing.
Realita membuktikan, keputusan seseorang membeli atau memakai produk kita tergantung pada; reputasi kita, reliabilitas produk kita, dan ketiga adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita men-delighted customer (membuat pelanggan puas) itulah yang menjadi kunci utamanya.
Dalam pola hidup yang makin "ruwet", masyarakat sekarang menyukai hal yang praktis dan mudah. Karenanya satu cara gampang membangun kesetiaan adalah dengan menawarkan kemudahan (convenience) pada pelanggan.
Berikan kemudahan mulai dari cara mendapatkan produk Anda, berkendaraan saat menuju tempat usaha Anda, parkir aman, suasana enak dan nyaman, servis dan pelayanan yang oke hingga penyediaan toilet yang bersih. Serta jangan lupa, jika data base Anda tentang pelanggan baik, kirimi mereka kartu ucapan ulang tahun di saat mereka ulang tahun.
Sikap ini tidak saja mampu menjaga kesetian pelanggan, tapi juga merebut cinta pelanggan baru. Semoga (wis ah)

psichobiz atawa psikologi bisnis (1)



Mewujudkan Pikiran Gila
Oleh:
RHR Dodi Sarjana



STEREOTIP. Istilah ini tentu tak asing lagi di telinga kita. Kepercayaan bahwa seluruh anggota kelompok tertentu memiliki sejumlah karakteristik yang sama, dianggap sebangun dan homogen, sudah sejak lampau diyakini banyak orang.
Di kalangan orang asing misalnya, dalam kajian psiko-sosial ada semacam konsensus bahwa orang Jerman pandai di bidang teknik, sementara orang Irlandia agak tumpul pemikirannya dan semua wanitanya emosional. Orang Perancis sangat romatis, sedang orang Negro kurang bertangung jawab. Itulah contoh stereotip.
Siapa pun dan apa pun yang keluar dari stereotip dianggap aneh dan nyleneh. Dia menjadi tidak umum dan cenderung dihindari banyak orang. Dari sinilah, awal manusia terjebak dalam prasangka-prasangka buruk terhadap apa pun.
Dalam perspektif social cognition, pakar psikologi sosial Russell Spears menyebutkan, manusia berhadapan dengan realitas sosial yang kompleks sehingga punya kecenderungan membagi sesuatu dalam kategorisasi atau kelompok untuk menyederhanakan persoalan.
Stereotip mendorong manusia jadi pelit dan malas berpikir, sehingga beresiko banyak menuai kesalahan dalam penyimpulan. Namun stereotip tetap dipakai karena menghemat energi. Sungguh ini pendapat yang menyesatkan.
Dalam bisnis, kecenderungan stereotipisasi juga membudaya. Orang maunya sesuai pakem saja. Asumsi-asumsi menggiring pebisnis pada pemahaman bahwa informasi, kegiatan bisnis yang stereotip selama ini dianggap lebih cepat diproses dan direspon pasar. Benarkah demikian!? Tunggu dulu!
Kita semua pasti mengenal baik nama Tirto Utomo dengan bisnis Aqua-nya atau Sosro dengan teh botolnya. Bisnis mereka, pada awalnya diangap bisnis gila karena nyebal dari stereotip. Di luar kebiasaan, mereka membisniskan barang yang umum tapi tidak umum. Tapi siapa sangka, air yang melimpah ruah di alam semesta menjadi "semahal" emas. Teh yang biasanya diminum tidak lama setelah diseduh, menjadi nikmat disimpan berlama-lama di botol?
Konon, perilaku Tirto dan Sosro pernah dianggap lelucon bisnis yang absurd. Namun kini, orang berduyun-duyun mengikutinya. Dan ketika orang mengalami euphoria, barangkali kedua orang perintis itu sudah lari lagi dengan konsep gilanya yang lain.
Contoh ide gila yang lain adalah larutan penyegar Cap Kaki Tiga. Produk yang berisi semacam air ini juga terbilang absurd. Tapi lihatlah "khasiatnya", dia mampu mengusir panas dalam. Buntutnya, kemasan air itu juga laris bak kacang goreng.
Psikolog dunia Sigmund Freud dengan teori psikoanalisanya mengemukakan, dalam diri setiap manusia sebenarnya terdapat syaraf-syaraf impulsif yang mendorong manusia untuk berbuat dan beraktivitas. Dorongan kuat syaraf ini bisa membuat manusia ‘gila’ dan mewujudkan aktivitasnya dengan amat sangat inovatif plus kreatif.
Selama ini perjalanan waktu telah membuktikan bahwa bisnis "orgil" (baca: orang-orang dengan ide gila) tahan segala cuaca. Dia tidak tergerus krisis, pasar bebas dan reaganisme. Dia tidak takut apa pun, karena dia punya banyak amunisi inovasi untuk ditembakkan menjawab perubahan zaman.
Menyiasati perubahan tren kehidupan dan tren bisnis, tidak cukup hanya dengan pakem yang ada. Tidak cukup mengandalkan jalinan stereotipisasi yang sudah mapan. Perlu menggali sesuatu yang lain, yang selama ini luput dari perhatian orang. Apa kira-kira itu? Berpikirlah "gila" supaya ide gila seperti milik Tirto, Sosro dan Kaki Tiga bisa lahir.
Menciptakan sesuatu yang berbeda dan baru, selalu mampu membuat orang terhenyak untuk melirik dan mencoba produk kita, ketimbang melakukan "penyeragaman" dengan maksud mengekor sukses produk yang suda ada. ***

Sensasi Iklan di Media Massa (3)



Menjerumuskan Sosok Wanita
Oleh:
RHR Dodi Sarjana


La femme n'exste pas...la femme n'est pas foute
Wanita itu tak ada...wanita itu tak lengkap
(Jacques Lacan)


KALAU saya mengutip kata-kata di atas, bukan berarti saya benci wanita, antiwanita, sedang patah hati terhadap wanita atau yang lainnya. Saya mengemukakan itu justru karena dorongan rasa cinta terhadap wanita. Perasaan tulus mengagumi dan menghormati kaum wanita.
Bagi saya, terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, wanita adalah mahluk yang hebat. Baik secara fisik maupun psikis, dia punya kelebihan dibanding kaum lelaki. Pendapat pribadi ini memang bisa diperdebatkan. Tapi lihatlah, siapa yang bisa bertahan setiap bulan harus "menderita" rasa sakit terkait kodratnya. Siapa yang selama 9 bulan, mampu bertahan untuk mengandung? Dialah wanita.
Terinspirasi dari wanita lahirlah istilah-istilah agung seperti ibu pertiwi, ibu kota, surga di bawah telapak kaki ibu dan lain-lain. Lalu lelaki? Belum ada ungkapan untuk menyatakan kelebihannya secara spesifik.
Terus apa hubungan ungkapan di ujung atas sana dengan tulisan ini? Saya hanya ingin memberikan ilustrasi sedikit terhadap fenomena yang makin menggeliat dari masa ke masa. Bahwa wanita--entah karena diirikan atau karena alasan yang lain-- seringkali dikorbankan dalam banyak aktivitas manusia. Termasuk di dunia bisnis.
Kalau boleh diistilahkan, upaya yang selama ini nampak di berbagai kegiatan pendukung bisnis, baik yang nampak di media cetak maupun elektronik adalah "penindasan" terhadap kaum perempuan. Serem ya? Tergantung kita menyikapi dan mencari solusinya.
Dalam banyak tayangan televisi, seringkali perempuan sekadar dijadikan objek seksual, hidupnya tergantung kepada lelaki, gampang menyerah, tanpa ditonjolkan kelebihan-kelebihannya.
Sebagai pemeran iklan, wanita seringkali lebih dikedepankan sisi sensualitasnya. Dalam iklan mobil, seolah dibangun asumsi bahwa mobil tersebut semulus wanita. Pada iklan rokok, makanan suplemen atau obat-obatan, terbangunlah asosiasi-asosiasi "genit" lainnya.
Bagaimana dengan iklan produk yang lain? Setali tiga uang efek yang hendak diraih pemasangnya. Meminjam konsep pemikiran Jacques Lacan, efek tampilan iklan pada akhirnya makin menjerumuskan pendapat adanya ketakberdayaan wanita. Wanita itu ada, tapi tiada.
Dalam dunia bisnis, ada yang namanya etika bisnis. Ada juga yang namanya positioning produk dan ada pula yang namanya brand image. Pada kasus wanita dalam bingkai "media promosi dan iklan", tentunya ketiga hal tadi sangat saling mempengaruhi.
Dalam menampilkan citra wanita untuk memberikan gambaran produk yang ditawarkan, sudah tentu butuh trik tersendiri agar apa yang disampaikan benar-benar terwakili oleh penampilan sang wanita.
Pasar mana yang hendak dibidik oleh pengiklan, tentunya juga tercermin dari penampilan model iklannya. Meleset sedikit saja dari perencanaan, bisa jadi produk yang diwakili oleh sang model juga akan menancap salah di benak konsumen. Dan ujung-ujungnya, goal atau tujuan pengiklan tidak akan pernah kesampaian.
Wanita hakikatnya adalah suri teladan kehidupan. Bagaimana memposisikannya dalam rajutan bisnis, adalah cermin kualitas produk dan etika bisnis tersebut secara keseluruhan.
Tampaknya lebih elok dan bijak jika martabat wanita selalu dijunjung dalam setiap produk iklan. (udah ah)

Sensasi Iklan di Media Massa (2)



Mengusik Rasa Kasih Sayang
Oleh:
RHR Dodi Sarjana



DALAM rangkaian strategi iklan "pester" (mengganggu), ada "pester the dad" ataupun "pester the mom". Banyak kalangan menyatakan strategi ini strategi tradisional. Biarlah, yang pasti yang "kuno" belum tentu jelek.
Pada eranya, dia akan muncul lagi, sepertihalnya yang terjadi di dunia mode. Anda sekalian tentu pernah menemui sebuah iklan yang menampilkan anak yang kesepian ditinggal kedua orangtuanya bekerja.
Si anak digambarkan membeli snack yang ada mainannya, sehinga ia punya "teman". Iklan ini mengangu sang ibu untuk melirik produk yang ditawarkan. Atau pernahkah Anda melihat tayangan iklan Telkom yang memperlihatkan seorang kakek dengan membawa oleh-oleh mainan mengunjungi cucunya?
Sial, sudah kehujanan sang anak tidak dijumpai di rumah. Kenapa tadi tidak telpon dulu, pikir sang kakek. Dengan tayangan itu, pikiran para costumer cukup umur, makin tersadarkan bahwa fungsi telepon penting dan tak tergantikan.
Banyaknya tampilan iklan yang tak berani menjebol pakem atau kebiasaan, menurut hemat saya, bukan disebabkan skill atau IQ pembuatnya. Tapi lebih karena attitude para praktisi periklanan yang selalu menganggap konsumen bodoh.
Tidak mengerti bahasa iklan, mampunya hanya menangkap yang tersurat, bukan mencerna yang tersirat. Nah lhoo... Padahal, awalan yang biasanya membuat konsumen tertarik adalah sensasi iklannya.
Bagaimana? Hhmm.., kalau kebiasaan itu dipertahankan para pengiklan dan marketer mengamininya, bersiap-siap saja produk Anda bakal menjadi gombal amoh (barang tak berguna), tak dilirik konsumen, dan tak terjual sampai lewat tanggal kedaluwarsanya.(nyambung)

Sensasi Iklan di Media Massa (1)



Menggangu Pikiran Konsumen
Oleh:
RHR Dodi Sarjana

(kartun/via cakjoyo.blogspot)

"SAYANG, hubungan kita sudah berakhir. Kembalilah pada istrimu. Aku kembali ke kota M. Dengarkanlah pesan terakhirku di 446-5614. Sylvia." Itulah bunyi sebuah iklan di surat kabar yang terbit di Florida, Amerika Serikat. Akibat iklan tersebut, banyak orang yang ingin tahu isi pesan yang ditinggalkan Sylvia. Nomor telpon itu pun sibuk terus. Pesannya? Ternyata rekaman iklan dari sebuah perusahaan susu. Itulah iklan menggelitik tentang produk susu, seperti termuat di m3-access.com Telepas dari apakah itu guyonan belaka ataukah bener-bener terjadi, ide iklan di atas cukup brilian. Ciamik kata orang Tionghwa, edan kata orang Jawa. Itulah strategi beriklan dengan metode "pester the thought", mengganggu pikiran "waras" kebanyak orang. Tentu banyak yang bertanya-tanya, iklan pembebasankah itu? Pemberontakan terhadap nalar? Ataukah ia sebuah pelarian dari sifat manusia yang jenuh dengan pola dan irama nalar yang menuntut kesetiaan (baca keajegan)? Tidak...! Bagi saya, gaya iklan tersebut masih berada dalam relnya. Iklan itu justru sedang menyiasati pola hidup manusia yang saat ini berada di ambang pergeseran budaya. Dia berani mengutamakan nalar untuk menangkap alur perubahan yang sedang terjadi, menjinakkan kegilaan dan fantasi dunia bisnis (Bandingkan dengan teori filsafatnya Bochensky yang menyatakan bahwa menjadi manusia, berarti berani mengutamakan nalar. Selebihnya adalah kegilaan, fantasi dan omong kosong.) Award winning ads, iklan cantik paling mutakhir, biasanya mengalami evolusi. Dia melakukan renaissance bentuk dan cara pengucapan yang tak terlacak teorinya di literatur. Dia meninggalkan paradigma lama, bahwa iklan kepanjangan tangan marketer yang hanya cerewet menjajakan keunggulan produk. Iklan dari genre ini boleh dibilang dikemas dengan detil dan tidak disuapkan begitu saja ke benak konsumen. Berselancar di kasus seperti ini, diperlukan terobosan baru dalam menampilkan keunggulan produk. Dan tentunya sangatlah tidak bijaksana jika dalam penawaran produk terlalu overpromise. Lebih baik menampilkan sesuatu yang lain, yang mampu membuat penasaran costumer, sehinga ujung-ujungnya mereka memborong dagangan kita. (nyambung)