
Mengusik Rasa Kasih Sayang
Oleh:
RHR Dodi Sarjana
DALAM rangkaian strategi iklan "pester" (mengganggu), ada "pester the dad" ataupun "pester the mom". Banyak kalangan menyatakan strategi ini strategi tradisional. Biarlah, yang pasti yang "kuno" belum tentu jelek.
Pada eranya, dia akan muncul lagi, sepertihalnya yang terjadi di dunia mode. Anda sekalian tentu pernah menemui sebuah iklan yang menampilkan anak yang kesepian ditinggal kedua orangtuanya bekerja.
Si anak digambarkan membeli snack yang ada mainannya, sehinga ia punya "teman". Iklan ini mengangu sang ibu untuk melirik produk yang ditawarkan. Atau pernahkah Anda melihat tayangan iklan Telkom yang memperlihatkan seorang kakek dengan membawa oleh-oleh mainan mengunjungi cucunya?
Sial, sudah kehujanan sang anak tidak dijumpai di rumah. Kenapa tadi tidak telpon dulu, pikir sang kakek. Dengan tayangan itu, pikiran para costumer cukup umur, makin tersadarkan bahwa fungsi telepon penting dan tak tergantikan.
Banyaknya tampilan iklan yang tak berani menjebol pakem atau kebiasaan, menurut hemat saya, bukan disebabkan skill atau IQ pembuatnya. Tapi lebih karena attitude para praktisi periklanan yang selalu menganggap konsumen bodoh.
Tidak mengerti bahasa iklan, mampunya hanya menangkap yang tersurat, bukan mencerna yang tersirat. Nah lhoo... Padahal, awalan yang biasanya membuat konsumen tertarik adalah sensasi iklannya.
Bagaimana? Hhmm.., kalau kebiasaan itu dipertahankan para pengiklan dan marketer mengamininya, bersiap-siap saja produk Anda bakal menjadi gombal amoh (barang tak berguna), tak dilirik konsumen, dan tak terjual sampai lewat tanggal kedaluwarsanya.(nyambung)
0 komentar:
Poskan Komentar