
Menggangu Pikiran Konsumen
Oleh:
RHR Dodi Sarjana
(kartun/via cakjoyo.blogspot)
"SAYANG, hubungan kita sudah berakhir. Kembalilah pada istrimu. Aku kembali ke kota M. Dengarkanlah pesan terakhirku di 446-5614. Sylvia." Itulah bunyi sebuah iklan di surat kabar yang terbit di Florida, Amerika Serikat. Akibat iklan tersebut, banyak orang yang ingin tahu isi pesan yang ditinggalkan Sylvia. Nomor telpon itu pun sibuk terus. Pesannya? Ternyata rekaman iklan dari sebuah perusahaan susu. Itulah iklan menggelitik tentang produk susu, seperti termuat di m3-access.com Telepas dari apakah itu guyonan belaka ataukah bener-bener terjadi, ide iklan di atas cukup brilian. Ciamik kata orang Tionghwa, edan kata orang Jawa. Itulah strategi beriklan dengan metode "pester the thought", mengganggu pikiran "waras" kebanyak orang. Tentu banyak yang bertanya-tanya, iklan pembebasankah itu? Pemberontakan terhadap nalar? Ataukah ia sebuah pelarian dari sifat manusia yang jenuh dengan pola dan irama nalar yang menuntut kesetiaan (baca keajegan)? Tidak...! Bagi saya, gaya iklan tersebut masih berada dalam relnya. Iklan itu justru sedang menyiasati pola hidup manusia yang saat ini berada di ambang pergeseran budaya. Dia berani mengutamakan nalar untuk menangkap alur perubahan yang sedang terjadi, menjinakkan kegilaan dan fantasi dunia bisnis (Bandingkan dengan teori filsafatnya Bochensky yang menyatakan bahwa menjadi manusia, berarti berani mengutamakan nalar. Selebihnya adalah kegilaan, fantasi dan omong kosong.) Award winning ads, iklan cantik paling mutakhir, biasanya mengalami evolusi. Dia melakukan renaissance bentuk dan cara pengucapan yang tak terlacak teorinya di literatur. Dia meninggalkan paradigma lama, bahwa iklan kepanjangan tangan marketer yang hanya cerewet menjajakan keunggulan produk. Iklan dari genre ini boleh dibilang dikemas dengan detil dan tidak disuapkan begitu saja ke benak konsumen. Berselancar di kasus seperti ini, diperlukan terobosan baru dalam menampilkan keunggulan produk. Dan tentunya sangatlah tidak bijaksana jika dalam penawaran produk terlalu overpromise. Lebih baik menampilkan sesuatu yang lain, yang mampu membuat penasaran costumer, sehinga ujung-ujungnya mereka memborong dagangan kita. (nyambung)
0 komentar:
Poskan Komentar