Minggu, 09 Desember 2007

psichobiz atawa psikologi bisnis (1)



Mewujudkan Pikiran Gila
Oleh:
RHR Dodi Sarjana



STEREOTIP. Istilah ini tentu tak asing lagi di telinga kita. Kepercayaan bahwa seluruh anggota kelompok tertentu memiliki sejumlah karakteristik yang sama, dianggap sebangun dan homogen, sudah sejak lampau diyakini banyak orang.
Di kalangan orang asing misalnya, dalam kajian psiko-sosial ada semacam konsensus bahwa orang Jerman pandai di bidang teknik, sementara orang Irlandia agak tumpul pemikirannya dan semua wanitanya emosional. Orang Perancis sangat romatis, sedang orang Negro kurang bertangung jawab. Itulah contoh stereotip.
Siapa pun dan apa pun yang keluar dari stereotip dianggap aneh dan nyleneh. Dia menjadi tidak umum dan cenderung dihindari banyak orang. Dari sinilah, awal manusia terjebak dalam prasangka-prasangka buruk terhadap apa pun.
Dalam perspektif social cognition, pakar psikologi sosial Russell Spears menyebutkan, manusia berhadapan dengan realitas sosial yang kompleks sehingga punya kecenderungan membagi sesuatu dalam kategorisasi atau kelompok untuk menyederhanakan persoalan.
Stereotip mendorong manusia jadi pelit dan malas berpikir, sehingga beresiko banyak menuai kesalahan dalam penyimpulan. Namun stereotip tetap dipakai karena menghemat energi. Sungguh ini pendapat yang menyesatkan.
Dalam bisnis, kecenderungan stereotipisasi juga membudaya. Orang maunya sesuai pakem saja. Asumsi-asumsi menggiring pebisnis pada pemahaman bahwa informasi, kegiatan bisnis yang stereotip selama ini dianggap lebih cepat diproses dan direspon pasar. Benarkah demikian!? Tunggu dulu!
Kita semua pasti mengenal baik nama Tirto Utomo dengan bisnis Aqua-nya atau Sosro dengan teh botolnya. Bisnis mereka, pada awalnya diangap bisnis gila karena nyebal dari stereotip. Di luar kebiasaan, mereka membisniskan barang yang umum tapi tidak umum. Tapi siapa sangka, air yang melimpah ruah di alam semesta menjadi "semahal" emas. Teh yang biasanya diminum tidak lama setelah diseduh, menjadi nikmat disimpan berlama-lama di botol?
Konon, perilaku Tirto dan Sosro pernah dianggap lelucon bisnis yang absurd. Namun kini, orang berduyun-duyun mengikutinya. Dan ketika orang mengalami euphoria, barangkali kedua orang perintis itu sudah lari lagi dengan konsep gilanya yang lain.
Contoh ide gila yang lain adalah larutan penyegar Cap Kaki Tiga. Produk yang berisi semacam air ini juga terbilang absurd. Tapi lihatlah "khasiatnya", dia mampu mengusir panas dalam. Buntutnya, kemasan air itu juga laris bak kacang goreng.
Psikolog dunia Sigmund Freud dengan teori psikoanalisanya mengemukakan, dalam diri setiap manusia sebenarnya terdapat syaraf-syaraf impulsif yang mendorong manusia untuk berbuat dan beraktivitas. Dorongan kuat syaraf ini bisa membuat manusia ‘gila’ dan mewujudkan aktivitasnya dengan amat sangat inovatif plus kreatif.
Selama ini perjalanan waktu telah membuktikan bahwa bisnis "orgil" (baca: orang-orang dengan ide gila) tahan segala cuaca. Dia tidak tergerus krisis, pasar bebas dan reaganisme. Dia tidak takut apa pun, karena dia punya banyak amunisi inovasi untuk ditembakkan menjawab perubahan zaman.
Menyiasati perubahan tren kehidupan dan tren bisnis, tidak cukup hanya dengan pakem yang ada. Tidak cukup mengandalkan jalinan stereotipisasi yang sudah mapan. Perlu menggali sesuatu yang lain, yang selama ini luput dari perhatian orang. Apa kira-kira itu? Berpikirlah "gila" supaya ide gila seperti milik Tirto, Sosro dan Kaki Tiga bisa lahir.
Menciptakan sesuatu yang berbeda dan baru, selalu mampu membuat orang terhenyak untuk melirik dan mencoba produk kita, ketimbang melakukan "penyeragaman" dengan maksud mengekor sukses produk yang suda ada. ***

3 komentar:

Ahmad TAufiq mengatakan...

Dari majalah qalam - mohon izin pemuatan artikel:

Salam pak Dodi.

Saya Ahmad Taufiq dari Majalah Qalam milik Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Madura. Majalah kami baru mulai terbit bulan lalu, dan alhamdulillah sekarang tengah menggarap edisi kedua.

Majalah ini memfokuskan kajian dan berita seputar isu psikologi Islam. Tanpa sengaja saya mendapatkan link ke blog bapak yang sangat bagus ini dan membaca artikel "Mewujudkan Pikiran Gila".

Artikel ini menarik saya untuk mempublikasikannya, agar para santri dan pembaca bisa mendalami dan memanfaatkan ide-ide yang ada.

Mohon izin dan kerelaan untuk dimuat di majalah kami. Dan jika dikabulkan kami mohon bapak bersedia mengirimkan CV dan foto beresolusi bagus (format jpeg atau tiff).


Mohon konfirmasi.


Terimakasih. Jazakumullah.

rhr dodi sarjana mengatakan...

Halo Cak Ahmad Taufik, terimakasih atas perkenalannya dan atensinya. Boleh aja artikel saya dimuat di tabloid Anda. Silahkan

ALamat email sampeyan apa? Bisakah dikirim ke dodisarjana@yahoo.com. biar cepet ketahuan.

Mohon maaf, saya terlambat membaca komentar Anda

Vivix Taufiq mengatakan...

Salam Pak Dodi.

Maaf saya juga terlambat kembali melihat blog bapak, jadi baru tahu ada respon untuk segera mengirim email.

Email saya: vivixtopz@yahoo.com.
Hp: 08158223413

Makasih.